Breaking News

Pintar Sekaligus Bahagia


BERSEKOLAH hampir selalu dipandang sebagai upaya untuk mencari ilmu dan memastikan masa depan yang lebih baik. Sering kita mendengar ungkapan 'bersekolahlah setinggi-tingginya supaya dirimu menjadi pintar dan dihargai orang' atau 'dengan bersekolah, kamu akan mendapatkan pekerjaan yang layak dan bisa menjamin hidupmu di masa depan', dan banyak ungkapan sejenis lainnya.

Bersekolah, karenanya, menjadi salah satu upaya yang dianggap mampu untuk meningkatkan derajat atau status mereka yang melakukannya, sekaligus menjadi keharusan bagi mereka yang ingin mengubah dan memperbaiki nasib.

Dalam prosesnya, bersekolah lebih sering menjadi ajang pembuktian kemampuan kognitif seseorang atas orang lain. Akibatnya, banyak kita lihat sekolah yang terobsesi dengan pencapaian-pencapaian akademis semata. Membiasakan mereka yang bersekolah dengan skema persaingan yang ketat, disiplin yang kaku, dan pemujaan terhadap kemampuan (terutama) akademik muridnya.

Pencapaian di luar bidang akademik tidak dianggap sepenting keberhasilan di bidang itu. Untuk mencapainya, serangkaian upaya--dan juga pengorbanan--harus dilakukan. Penambahan jam pelajaran, les tambahan, sistem pemeringkatan--yang dinyatakan secara terbuka atau tidak, kelas khusus bagi mereka yang dianggap lebih pandai, program akselerasi, dan lainnya.

Bersekolah kemudian menjadi soal bagaimana menaklukkan para pesaing dengan mengasah kemampuan berpikir mereka secara keras dan terus-menerus. Tuntutan semacam itu menjadikan proses bersekolah juga menjadi penuh tekanan dan beban.

Lalu bagaimana dengan kebahagiaan? Bukankah bersekolah semestinya juga menjadi sebuah proses yang membahagiakan dan membebaskan justru karena bersekolah adalah cara meraih harapan di masa depan? Mungkinkah bersekolah tidak hanya membuat seseorang memiliki kemampuan otak yang cemerlang atau pintar, tetapi juga tanpa kehilangan kebahagiaannya?

Empat aspek well-being

Daniel Gilbert, psikolog Harvard University dalam bukunya, Stumbling on Happiness (2009), menyatakan bahwa kebahagiaan adalah perasaan positif yang beriringan dengan perasaan keseluruhan bahwa hidup seseorang sungguh berarti atau bermakna. Lebih lanjut, berdasar riset yang dilakukannya, Gilbert menunjukkan terdapat korelasi yang erat antara kebahagiaan dan kesuksesan dalam pekerjaan.

Pegawai yang lebih bahagia--menurut Gilbert--mampu menunjukkan performa kerja yang lebih baik jika dibandingkan dengan mereka yang kurang bahagia. Mereka juga mampu memberikan hasil kerja lebih baik dan lebih bisa memberikan bantuan bagi rekan kerja. Lalu bagaimana korelasi antara kebahagiaan dan pencapaian dalam dunia pendidikan?

Dalam sebuah artikel menarik yang ditulis Lauren Schiller dan Christina Hinton berjudul "It's True: Happier Students Get Higher Grades", disebutkan, riset yang dilakukan Research School International bekerja sama dengan St Andrew's Espicopal School dan The Center for Transformative Teaching & Learning menemukan terdapat korelasi yang signifikan antara kebahagiaan dan kesuksesan pencapaian akademik.

Korelasi itu sangat dipengaruhi secara fundamental oleh kualitas hubungan yang dimiliki murid dengan komunitas sekolah, terutama sejawat dan guru mereka. Murid yang merasa didukung sejawat mereka, mendapatkan umpan balik yang membangun dari guru dan merasa menjadi bagian dari sejawat mereka, merasa dapat menikmati keberadaan mereka di sekolah dan memudahkan mereka untuk mencapai prestasi akademik.

Data menarik lain berkaitan dengan 'pintar sekaligus bahagia' di sekolah, ditunjukkan laporan Programme for International Students Assessment (PISA) 2015 Results (Volume III) Student Well Being yang diterbitkan 19 April 2017. Dalam laporan itu dinyatakan setidaknya terdapat empat aspek yang memengaruhi murid bisa 'pintar sekaligus bahagia' di sekolah (laporan PISA menggunakan istilah well-being--mengacu pada fungsi-fungsi dan kapasitas psikologis, kognitif, sosial dan fisik yang dibutuhkan murid untuk hidup bahagia dan bermakna).

Aspek-aspek yang perlu diperhatikan, pertama, aspek psikologis. Berkaitan dengan tingkat kepuasan murid atas kehidupan mereka di sekolah, kemampuan mereka mengenali tujuan mereka bersekolah, kesadaran diri dan ketiadaan persoalan-persoalan emosi yang menghalangi mereka berkembang di sekolah.

Membangun lingkungan sekolah yang memungkinkan proses dialog yang sejajar, aman, dan terbuka bisa dilakukan dapat membantu murid merasa diterima dan memberi peluang mereka menyadari potensi diri mereka sehingga memudahkan mereka menemukan tujuan bersekolah. Dalam konteks ini, keberadaan guru dan sejawat yang mendukung/supportive menjadi kebutuhan yang wajib dimiliki sekolah.

Dukungan orangtua juga menjadi faktor penting dalam aspek psikologis ini. Orangtua yang terlibat aktif dengan berbagai dinamika sekolah--melalui pertemuan rutin yang dilembagakan--dan memberi perhatian besar pada anak-anak mereka akan memberi kontribusi positif bagi terciptanya dukungan psikologis yang kuat bagi para murid.

Kedua, aspek fisik yang berkaitan kemampuan murid untuk beradaptasi dengan gaya hidup yang sehat dan kondisi kesehatan murid secara umum. Berbagai kebijakan sekolah yang berorientasi pada lingkungan yang hijau, sehat, dan bersih, akan mendorong menurunnya gangguan terhadap proses belajar yang berasal dari ketidaknyamanan lingkungan fisik sekolah.

Ketiga, aspek kognitif adalah kemampuan murid mengaplikasikan pengetahuan yang mereka dapat dalam sebuah pemecahan masalah. Proses belajar di sekolah tidak lagi disajikan kaku dan menggunakan sumber yang terbatas. Proses belajar yang terjadi harus disajikan lebih fleksibel, proses 'berbagi' daripada 'memberi' pengetahuan dan dilakukan melalui serangkaian praksis nyata yang bersentuhan langsung dengan upaya penyelesaian masalah.

Praktik belajar dari lingkungan sekitar sekolah (pasar, bank, pertokoan atau instansi/lembaga tertentu), mendatangkan guru tamu yang merupakan pelaku langsung topik yang dipelajari, dan lainnya ialah cara yang bisa dikembangkan.

Yang terakhir, aspek sosial dengan relasi atau hubungan murid dengan keluarga, sejawat, dan guru mereka termasuk perasaan atau penilaian mereka terhadap kehidupan sosial mereka. Praktik kunjungan berkala ke rumah orangtua/wali siswa, program literasi media sosial, atau dialog dengan basis kelas yang dilakukan untuk saling mendengar keluhan, komentar, maupun usulan setiap murid adalah beberapa kegiatan yang bisa dilakukan sekolah untuk penguatan aspek sosial.

Dengan mengelola keempat aspek di atas secara serius, sekolah bisa menjadi tempat yang bukan saja memberi peluang menjadi lebih 'pintar', melainkan juga menumbuhkan harapan bagi mereka yang belajar agar tidak pernah lupa untuk berbahagia. Pintar sekaligus bahagia.

Penulis: Dimas Aryo Wijanarko Pemerhati Pendidikan
Pada: Senin, 02 Apr 2018, 08:44 WIB
www.mediaindonesia.com

Halaman