Breaking News

Delegitimasi

Penulis: Ono SarwonoPada: Minggu, 17 Mar 2019, 01:40 WIB

PUNTADEWA tidak pernah habis-habisnya menjadi sasaran fitnah. Bukan itu saja, hinaan dan cercaan pun terus-menerus menghantamnya. Pihak yang bertindak keji itu ialah para bala Kurawa serta kroninya, dengan maksud menghancurkan harkat dan martabat serta reputasi Puntadewa.

Target mereka merampas kekuasaan Puntadewa atas Amarta. Takhta Astina yang dikuasai sebelumnya tidak membuat Kurawa puas. Duryudana, sulung sekaligus komandan Kurawa, juga bernafsu menguasai Amarta.

Salah satu strateginya mengejar kekuasaan ialah dengan memproduksi fitnah. Ini cara yang diyakini paling ampuh untuk menghalau Puntadewa. Propaganda hitam ini tiada henti disebar ke tengah-tengah rakyat.

Bagaimana respons Puntadewa? Ia tidak membalas para pecundangnya. Pesannya yang tampak dari setiap ucapan dan perilakunya ialah kerukunan trah Kresnadwipayana alias Abiyasa yang paling utama.

Terusir dari Astina

Puntadewa ialah sosok nirnafsu kekuasaan. Sikap dan wataknya pun tampak tidak mencerminkan syarat yang dibutuhkan sebagai seorang pemimpin. Namun, kodratnya, ia mendapat amanah sebagai raja.

Sejak kecil, terutama setelah bapaknya, Prabu Pandudewanata (raja Astina), mangkat, ia sudah menjadi sasaran aksi-aksi penyingkiran. Ini semata-mata karena posisinya sebagai putra sulung Pandu, yang berdasarkan paugeran negara, sebagai pewaris takhta Astina.

Kurawa yang dimentori Sengkuni merupakan pihak yang menginginkan kekuasaan atas Astina. Merekalah yang kemudian mendelegitimasi Puntadewa. Upaya itu dilakukan secara sistematis, mulai fitnah, ujaran kebencian, penghinaan, hingga tindakan bengis.

Sulung Pandawa itu dilecehkan sebagai titah yang tidak memiliki religiositas, tidak punya kecakapan memimpin, plonga-plongo, dan lelet. Fisiknya juga tidak luput dari sasaran. Puntadewa dianggap lemah karena badannya kurus dan dikatakan tidak tegas gara-gara gaya bicaranya yang halus, pelan, dan santun.

Bahkan, Kurawa berkoar-koar, jika Puntadewa tetap nglungsur keprabon (menggantikan kedududukan bapaknya sebagai raja), dipastikan bangsa dan negara Astina akan punah.
Rakyat Astina ketika itu, terutama yang kurang pendidikan, dan itu jumlahnya lebih banyak, terpengaruh propaganda Kurawa. Para petualang politik pun bermunculan mendukung agitasi Kurawa demi harapan mendapatkan jabatan atau keuntungan lain.

Akibatnya, Puntadewa (Pandawa) tidak mendapat simpati rakyat. Celakanya, Pandawa juga terusir dari istana Astina, tempat mereka dilahirkan. Sebaliknya, Kurawa disanjung di mana-mana karena dianggap mampu membawa kemakmuran rakyat seperti yang dijanjikan.

Tersingkirnya Puntadewa dan keempat adiknya (Bratasena, Permadi, Tangsen, dan Pinten) dari rumah mereka, tidak membuat Kurawa berhenti. Para putra pasangan Drestarastra-Gendari itu terus mengejar mereka. Ini demi melanggengkan kekuasaan mereka atas Astina. Namun, upaya menghilangkan Puntadewa (Pandawa) tidak berhasil.

Untuk menghindari perselisihan, Puntadewa dan adik-adiknya mengalah dan membangun negara sendiri di wilayah bernama Wanamarta. Lewat perjuangan yang tidak mengenal lelah, Pandawa berhasil mendirikan negara yang dinamakan Amarta atau Indraprastha.

Bangun peradaban

Dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin Amarta, Puntadewa senantiasa mengutamakan kepentingan rakyat. Setiap kebijakan yang diambil senantiasa prorakyat sehingga selalu mendapat dukungan.

Dalam kesehariannya, Puntadewa tidak pernah menampakan diri sebagai penguasa. Ia tidak menggunakan lambang kekuasaan, misalnya, mahkota kebesaran seperti raja-raja pada umumnya. Dalam berpakaian pun sangat sederhana dan tidak sekalipun menggunakan perhiasan.

Kepada siapa pun, ia bersikap rendah hati, murah hati, ramah, sopan, dan santun. Tidak sekalipun ia mempertontonkan kekuasaannya. Ia suka nawur kawula, berbaur dengan rakyat. Wajahnya selalu berbinar bila berada di tengah-tengah kawula. Kebiasaan inilah yang menjadikannya sangat mengerti denyut nadi rakyatnya.

Pada bagian lain, Puntadewa juga sukses membangun peradaban bangsa. Rakyat Amarta dikenal sangat menjunjung tinggi unggah-ungguh, yakni etika, norma, adab, dan moral lainnya. Misalnya, saling menghormati sesama warga, sopan, tenggang rasa, selalu introspeksi diri.

Prinsip yang dipegang rakyat Amarta ialah amemangun karyenak tyasing sesama, berbuat untuk kebaikan bersama. Pemimpin dan rakyat saeyek saeka kapti (kompak) membangun Amarta dengan nilai-nilai mulia. Inilah yang menjadikan Amarta negara yang adil dan makmur hingga kuncara ke seluruh marcapada.

Dari sinilah yang membuat Duryudana tergiur untuk menguasai Amarta. Kurawa kemudian lagi-lagi menggunakan cara-cara konvensional busuk. Mereka kembali menyebar fitnah yang ditujukan kepada Puntadewa.

Puntadewa disebut bukan warga pribumi, bukan anak asli Pandu. Kemudian, ia diakali habis-habisan lewat permainan dadu. Akhirnya, Pandawa kehilangan kekuasaan atas negara Amarta.

Puntadewa bukan tidak tahu bahwa Kurawa kembali menjahatinya, tetapi ia tetap pantang membalas. Tidak sedikit pun memiliki kebencian, apalagi dendam kepada kurawa. Malah sikapnya tetap menghormati Kurawa sebagai saudara sepupu yang lebih tua.

Bratasena, salah satu adiknya yang berbadan kekar berotot, kerap ingin mengganyang Kurawa. Namun, Puntadewa senantiasa mengingatkan, mencegah, dan bahkan melarangnya. Ia mengingatkan untuk tetap bersabar.

Di sisi lain, rakyat Amarta sudah pintar. Ini berbeda dengan rakyat Astina ketika ia terusir. Dengan demikian, rakyat Amarta bisa memilah mana benar dan yang tidak benar. Ini menjadi kekuatan sekaligus modal kemenangan Pandawa dalam perang Bharatayuda.

Hidup untuk berdarma

Pertanyaannya, bagaimana Puntadewa menjadi sosok yang demikian luhur budinya? Ini karena ia telah menemukan keyakinannya bahwa hidup sejatinya untuk pengabdian kepada jagat, lakunya dengan berdarma. Untuk berbuat kebajikan, lambarannya ialah sabar dan welas asih.

Maka dari itu, jangankan membenci, untuk bersikap tidak suka saja, Puntadewa tidak kuasa. Kemuliannya ini bukan hanya menyasar sesama manusia, melainkan juga terhadap seluruh makhluk ciptaan-Nya.

Dalam konteks kebangsaan, kita ingin bangsa ini senantiasa melahirkan elite dan tokoh-tokoh besar. Para negarawan yang mencerahkan karena kemuliaan pribadi, pengabdian, dan pengorbanannya. Bukan para petualang elite politik yang justru mengorbankan persatuan dan kesatuan serta keadaban bangsanya hanya untuk mengejar kekuasaan sesaat. (M-2)

***

Halaman