Breaking News

Jihadisme Virtual

Penulis: Al Chaidar Dosen Departemen Antropologi Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, AcehPada: Kamis, 22 Nov 2018, 05:15 WIB


INTERNET menciptakan perubahan besar baik secara teoritis maupun praktis bagi dunia komunikasi. Orang hidup dalam dunia maya (online) seperti layaknya dalam kehidupan nyata (offline). Pengguna internet saling bercakap dan bertukar gagasan dengan pengguna lain secara virtual di berbagai belahan dunia, layaknya berada dalam sebuah kampung (Kozinets, 2007: 1-2).

Ketika kaum Jihadis IS menggunakan terorisme untuk memberontak dan mendirikan negara sendiri, perang saudara terbukti menjadi lebih keras dan meluas berkat teknologi internet. Sebenarnya sejak 1980-an, jihadisme model Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS), suatu bentuk aktivisme transnasional yang kejam, telah mencoba memobilisasi perang sipil melalui dunia maya. Melibatkan pengusaha, petualang asing, dan pelaku terorisme transnasional serta domestik.

Kegiatan-kegiatan ini merupakan bagian integral dari tren jihadis, termasuk NIIS, yang saling tumpan-tindih dengan kekuatan teroris lainnya. Atau, merupakan gabungan dari arus ideologis yang sama, yang pada gilirannya mencerminkan pembagian kerja internal dan ketidakpuasan di dunia Arab dan di dunia Islam.

Elite dan pimpinan NIIS menyadari bahwa hubungan antara terorisme jihadis dan perang saudara jauh dari keseragaman atau konstan, dan jihadisme bukanlah kesatuan dan monolitik, melainkan saling bersaing dan berbeda secara ideologis. Namun, NIIS mampu mengonsolidasi dan mengkapitalisasikannya.

Maka, kita menyaksikan bagaimana jihadis NIIS memompa kekerasan antar-negara atas nama ideologi jihadis berbaur dengan konflik sipil di Timur Tengah, Asia, dan Afrika. Jihadis adalah aktor perang sipil dan teroris transnasional.

Studi akademisi James Fearon (Stanford University, AS) menunjukkan, pada 1990, hanya 5% dari konflik sipil yang menampilkan para pemberontak jihadis, tetapi pada 2014, proporsinya telah meningkat menjadi 40%. Sejak 1980-an, para jihadis telah memasukkan pemberontak dan teroris ke dalam perang sipil, dengan melibatkan pengusaha, pelatih, penyandang dana, perekrut legiun asing, penyelenggara terorisme transnasional, serta domestik.

Dalam kaitan ini, koalisi transnasional Jihadis NIIS pun mengaitkan konflik lokal yang jauh dengan ketidakpuasan di dunia Arab. Jihadis NIIS berusaha mencari kekuasaan di negara atau daerah mayoritas Muslim. Bagi jihadis NIIS, terorisme melawan Barat dan negara-negara tetangga merupakan tumpahan utama dari konflik-konflik politis-ideologis tersebut.

Elite dan pimpinan NIIS paham bahwa Telegram tidak bisa dilacak setelah aksi serangan. Dalam hal ini, penggunaan dari pesan terenkripsi peer-to-peer oleh NIIS tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan meskipun ada prakiraan dini bahwa kelompok NIIS sedang dalam pergolakan terakhirnya.

Sebagai media sosial, NIIS paham bahwa platform seperti Twitter dan Facebook secara progresif telah diawasi dengan pemantauan dan penghapusan akun yang agresif. Oleh karenanya, Telegram tetap menjadi prioritas utama NIIS untuk menyebarkan propaganda dan merekrut anggota baru.

Khilafah virtual
Kita pun perlu menyelidiki secara netnografis bagaimana Telegram digunakan oleh NIIS dan pendukungnya, dan menilai jenis ancaman apa dari penggunaan Telegram di masa depan tatkala NIIS sudah kehilangan basis wilayahnya di Irak dan Suriah, dan bertransisi menjadi kekhalifahan virtual, sejauh ini, aktivitas NIIS ternyata tetap membara.

Harus kita garis bawahi bahwa ketika kaum jihadis NIIS menggunakan terorisme untuk memberontak dan mendirikan negara, perang saudara terbukti menjadi lebih keras dan meluas. Sebenarnya sejak 1980-an, jihadisme model NIIS suatu bentuk aktivisme transnasional yang kejadian telah mencoba memobilisasi perang sipil, yang melibatkan pengusaha, petualang asing, dan pelaku terorisme transnasional serta domestik.

Kegiatan-kegiatan ini merupakan bagian integral dari tren jihadis, termasuk NIIS, yang saling tumpang-tindih dengan kekuatan teroris lainnya, atau merupakan gabungan dari arus ideologis yang sama, yang pada gilirannya mencerminkan pembagian kerja internal dan ketidakpuasan di dunia Arab dan di dunia Islam.

Elite dan pimpinan NIIS menyadari bahwa hubungan antara terorisme jihadis dan perang saudara jauh dari keseragaman atau konstan. Jihadisme bukanlah kesatuan dan monolitik, melainkan saling bersaing dan berbeda secara ideologis.

Namun, NIIS mampu mengonsolidasi dan mengapitalisasikannya. Maka, sekalipun NIIS berubah menjadi kekhalifahan virtual, mereka tetap mampu memobilisasi atau setidaknya menggerakkan terorisme dan ekstremisme di masa depan di berbagai belahan bumi.

Jihadis virtual
Beberapa tahun ini, masyarakat dunia menyaksikan bagaimana jihadis NIIS memompa kekerasan antarnegara atas nama ideologi jihadis berbaur dengan konflik sipil di Timur Tengah, Asia, dan Afrika. Jihadis ini adalah aktor perang sipil dan teroris transnasional.

Studi akademisi James Fearon (1995: 379) dari Stanford University, AS, menunjukkan, pada 1990, hanya 5% dari konflik sipil yang menampilkan para pemberontak jihadis. Namun, pada 2014, proporsinya telah meningkat menjadi 40%. Sejak 1980-an, para jihadis telah memasukkan pemberontak dan teroris ke dalam perang sipil, dengan melibatkan pengusaha, pelatih, penyandang dana, perekrut legiun asing, dan penyelenggara terorisme transnasional serta domestik.

Dalam kaitan ini, koalisi transnasional jihadis NIIS pun mengaitkan konflik lokal yang jauh dengan ketidakpuasan di dunia Arab. Jihadis NIIS berusaha mencari kekuasaan di negara atau daerah mayoritas Muslim. Bagi jihadis NIIS, terorisme melawan Barat dan negara-negara tetangga merupakan tumpahan utama dari konflik-konflik politis dan ideologis tersebut.

Jihadisme ekstrem ala NIIS adalah jenis

***

Halaman