Breaking News

Membungkam Kampanye Hitam

Penulis: Suyatno Analis Politik Pemerintahan pada FHISIP Universitas TerbukaPada: Jumat, 01 Mar 2019, 03:15 WIB


SEBURUK-BURUK orang carilah kebaikannya. Itulah yang semestinya menjadi pegangan hidup bersama saat ini dalam memilih pemimpin untuk membawa negeri ini ke arah yang maju sejahtera.

Penilaian manusia bisa benar bisa salah. Bukan malah sebaik-baik orang dicari keburukannya sebagaimana kampanye hitam yang dilakukan tiga perempuan di Karawang, beberapa waktu lalu. Di media sosial beredar video kampanye hitam terhadap pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Dalam video yang berdurasi 59 detik itu, terlihat dua perempuan tengah berbicara dengan seorang warga dalam bahasa Sunda. Isi pembicaraan tersebut menunjukkan bahwa perempuan itu mengatakan jika pasangan capres nomor 01 terpilih akan menimbulkan beberapa polemik, satu di antaranya tidak akan ada lagi azan. Sosialisasi yang mengarah pada kampanye hitam ini diunggah lewat Twitter dengan akun @citrawida5 dan menjadi viral.

Meski menurut Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Karawang, Jawa Barat, tidak menemukan pelanggaran kampanye karena bukan tim kampanye, tetapi pelaku menghadapi aturan lain.

Kini para pelaku kampanye hitam sudah ditahan di Polda Jawa Barat dan terancam dakwaan melanggar UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman hukuman hingga 10 tahun penjara. Sementara itu, adanya aktor intelektual tentu menjadi wajar untuk menjadi perhatian sebelum mengambil keputusan seperti diambil Bawaslu Karawang.

Kampanye hitam menjadi populer sejak 1936 dengan istilah smear campaign. Berdasar Hersen (2002) dari caranya kampanye hitam ditempuh dengan merusak reputasi sasaran bisa perorangan ataupun kelompok. Sarana utama yang digunakan ialah propaganda negatif. Tujuannya ialah melakukan pembunuhan karakter seseorang atau produk tertentu. Informasi yang disampaikan fitnah, kebohongan.

Sejalan dengan itu, dikemukakan Turistiati (2016), kampanye hitam ialah memfitnah, mengadu domba, menghasut, menghina, atau menyebarkan berita bohong oleh seorang calon/sekelompok orang/partai/pendukung calon terhadap lawan mereka.

Berbeda dengan kampanye negatif yang tidak bisa dijerat langsung melalui peraturan tentang kampanye, kampanye hitam bisa ditindak sesuai aturan. Setidaknya ada dua hal yang membedakan keduanya. Dilihat dari komunikatornya, kampanye negatif jelas dan terencana, sedangkan black campaign tidak jelas cenderung asal-asalan.

Sementara itu, dari pesan dan tujuannya, kampanye negatif pesannya benar dengan tujuan menunjukkannya pada publik. Kampanye hitam pesannya tidak benar, mengada-ada, dengan tujuan mendiskreditkan seseorang (kandidat).

Kemunculan

Ada beberapa hal menjadi penyebab ditempuhnya kampanye hitam, di antaranya ambisi yang berlebihan akan kekuasaan. Hal itu mendorong untuk menghalalkan segala cara dalam meraih kekuasaan. Kemampuan untuk membedakan baik dan buruk sengaja atau otomatis dihilangkan.

Berikutnya, kekurangan sumber daya untuk menyerang sehingga pihak pesaing selalu dilekati dengan anggapan buruk yang sengaja diciptakan atau dicari-cari. Bagi mereka, cara ini dianggap paling simpel dilakukan, tetapi memiliki tingkat keberhasilan yang dianggap cukup tinggi. Muncullah informasi yang diproduksi bersifat buruk dan bahkan jahat. Informasi tidak berdasar fakta dan data hanya kebohongan tak bisa dibuktikan.

Ada dorongan harus menang secara berlebihan. Kelompok seperti itu akan sangat emosional dalam mengikuti sebuah kompetisi. Selalu mencari-cari kesalahan pihak lain dalam mengikuti kontestasi. Tujuan akhirnya ialah memancing agar emosi para pendukung lawan politik timbul sehingga muncul keraguan, lantas pelan-pelan meninggalkan pilihannya, dan mengubahnya pada kandidat lain.

Lainnya pandangan akan kebenaran yang sempit dan subjektif menjadi landasan sehingga memunculkan adanya perasaan diri dan kelompoknya selalu benar. Kelompok lain harus dianggap tidak benar dan tidak baik. Kebenaran menjadi monopoli pribadi dan kelompok yang sempit.

Kecenderungan itu akan memunculkan sejumlah dampak. Sasaran kampanye hitam akan jatuh sebagai korban fitnah. Hampir semua orang tahu bahwa fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Kejahatan pembunuhan saja sudah tak teperi kesadisannya, apalagi ini lebih kejam. Dampaknya begitu luas dan mendalam. Hal itu mengingat tujuan dari kampanye hitam ialah jatuhnya lawan politik.

Stigma melekat pada korban kampanye hitam. Fitnah tidak bisa dikonfirmasi kebenarannya. Bahkan, hingga pelaku dan korban sudah meninggal, tetapi dampak fitnah masih terus berlangsung. Keburukan yang diproduksi dan melekat dari kampanye hitam tidak akan bisa dibersihkan, bahkan hingga dunia ini berakhir.

Tak jarang kebencian dan rasa permusuhan ditujukan pada korban kampanye hitam selama hidup. Orang yang pada awalnya memiliki sikap netral dan berpikir sehat lantas dihinggapi sikap buruk itu. Sikap dan noda kebencian yang buruk tentu tidak dikehendaki mewarnai kehidupan manusia hingga matinya.

Bungkam
Sejumlah langkah bisa ditempuh dalam upaya menangkal dan membungkam kampanye hitam. Tindakan tegas harus diberikan pada pelaku kampanye hitam. Penegakan keadilan terhadap para pelaku fitnah itu patut terus digelorakan. Penerapan sanksi yang jelas dan tegas akan memunculkan efek jera.

Hal itu bisa mencegah kampanye hitam berkembang dan berulang dilakukan. Melakukannya akan berhadapan dengan sanksi hukum yang telah menanti akan mendorong calon pelaku kampanye hitam berfikir berulang kali. Tidak berhenti pada pelaku, tetapi aktor intelektual, mengingat tidak ada sesuatu dilakukan tanpa tujuan dan hasil yang sepadan.

Pemilihan pemimpin harus dilandasi dengan prinsip bahwa semua manusia memiliki kelemahan dan kelebihan, termasuk pelaku kampanye hitam. Tidak ada manusia yang sempurna. Pelaku kampanye hitam juga dilumuri sejumlah kekurangan dan keburukan dan belum tentu yang dfitnah itu lebih buruk dari pembuat fitnah. Sikap lainnya harus pandai mengendalikan emosi dan berfikir secara jernih dan bijak.

Semua yang dilakukan seseorang, balasannya akan kembali pada dirinya cepat ataupun lambat. Dalam pepatah Jawa berbunyi ‘ngunduh wohing pakarti’, artinya manusia akan memanen buah dari tingkah lakunya. Buah yang bisa jadi jauh lebih berat ketimbang apa yang telah diperbuat.

Akhirnya, tujuan baik hendaklah ditempuh dengan cara yang baik, apalagi untuk menduduki jabatan presiden. Jabatan kepala negara dan kepala pemerintahan di negeri ini. Semua berhak menentukan pilihannya secara bebas, jujur, dan adil.

***

Halaman