Breaking News

Rokok Bakar, Rokok Elektrik, dan Kuasa Asuh Anak

Penulis: Seto Mulyadi  Ketua Umum LPAI, Dosen Fakultas Psikologi Universitas GunadarmaPada: Sabtu, 23 Mar 2019, 04:20 WIB 


KASUS-KASUS perceraian saat ini terasa semakin kencang dan menggelombang. Dalam catatan LPAI, perceraian orangtua telah memantik masalah serius susulan bagi anak-anak yang dilahirkan, yakni perebutan kuasa asuh (hak asuh) antara ayah (mantan suami) dan bunda (bekas istri). Kemelut tentang kuasa asuh ini sering mengandung kompleksitas yang lebih tinggi daripada perceraian itu sendiri.

Saat menyidangkan perkara perebutan kuasa asuh, sebelum menghasilkan putusan atas masalah pelik yang muncul, hakim sepatutnya mencermati secara rinci kesanggupan tiap-tiap pihak ayah dan bunda yang sedang beperkara.

Satu aspek yang sering terkesampingkan dari perhatian hakim ialah kepedulian para orangtua terhadap kesehatan anak-anak mereka sendiri. Kepedulian itu seyogianya tidak hanya dipertimbangkan berdasarkan bukti finansial belaka, seperti kepemilikan asuransi kesehatan anak. Satu hal yang cukup dekat dengan kehidupan orangtua dan anak, tapi masih sering terabaikan karena belum dipandang relevan, ialah kebiasaan buruk merokok pada ayah ataupun bunda.

Dalam jangka pendek, orangtua yang merokok di dekat anak mereka berisiko buruk bagi kesehatan darah daging mereka sendiri dengan menjadikannya sebagai second hand smoker. Semakin parah apabila orangtua mengondisikan anak mereka untuk juga menjadi perokok aktif. Pada titik ini, saya perlu memberikan penegasan bahwa rokok biasa (rokok bakar) dan rokok elektrik ialah sama bahayanya. Kedua jenis rokok tersebut harus dijauhkan sejauh-jauhnya dari anak.

Lebih jauh, pada masa sekarang, merokok di dekat anak-anak semestinya tidak lagi sebatas dinilai membahayakan anak. Patut dipertimbangkan sungguh-sungguh bahwa menjadikan anak sebagai perokok pasif ialah juga merupakan bentuk kekerasan terhadap anak.

Residu rokok (third hand smoke) yang tertinggal di dinding, mebel, dan sudut-sudut rumah lainnya juga berdampak amat buruk bagi kesehatan anak. Jejak-jejak racun yang dihasilkan perokok itu tertimbun sedemikian rupa, merusak lingkungan rumah sehingga tidak lagi ramah bagi kesehatan dan proses tumbuh kembang anak.

Dalam jangka panjang, kegagalan ayah dan bunda berhenti dari adiksi merokok, apalagi saat jumlah rokok yang dikonsumsi semakin menggunung, akan berkonsekuensi buruk terhadap kondisi finansial keluarga.

Semakin menyesakkan, pada saat anggaran keluarga terasa begitu mencekik karena dikuras perilaku kecanduan rokok ini. Pos anggaran untuk memenuhi kebutuhan anak pun semakin dikurangi secara besar-besaran bahkan kemudian dihapus sama sekali oleh orangtua. Orangtua sekaligus perokok semacam ini mendemonstrasikan buruknya kesadaran mereka atas pentingnya pemenuhan kepentingan terbaik bagi anak.

Perilaku merokok dalam penentuan kuasa asuh orangtua atas anak juga semakin mendesak saat anak akhirnya mengidap penyakit yang berkaitan dengan rokok (bakar maupun elektrik) ini. Apalagi, becermin pada banyak studi, perokok pasif berhadapan dengan risiko kesehatan jauh lebih berat daripada perokok aktif. Orangtua yang paham akan kesehatan anak, tapi tetap saja 'mengepulkan napas api' di dekat anak, sudah selayaknya untuk dimintai pertanggungjawabannya secara pidana.

Deskripsi tentang dampak rokok baik jangka pendek maupun jangka panjang, baik rokok bakar maupun rokok elektrik, sepatutnya memantik sense of urgency para hakim akan pentingnya mengkaji tingkah laku orangtua yang tengah berjibaku memperebutkan kuasa asuh atas anak mereka. Rokok, baik bakar maupun elektrik, tidak bisa dipandang sepele dengan alasan apa pun. Perilaku merokok merupakan penanda psikologis tentang ketidaksanggupan pengasuhan ayah bunda atas darah daging mereka sendiri.

Perhatian akan hal tersebut sudah ada presedennya. Doktrin yang mendasarinya ialah parens patriae, yakni negara menjamin kesejahteraan orang-orang yang dipandang rapuh, termasuk anak-anak, yang tidak mampu melindungi kepentingan-kepentingannya sendiri.

Persidangan pertama di mana masalah rokok masuk pertimbangan hakim ialah kasus perceraian antara Bapak dan Ibu Satalino di Amerika Serikat. Hakim menegaskan bahwa orangtua yang merokok identik dengan orangtua yang menenggak minuman keras atau menyalahgunakan narkoba. Itu menjadi dasar penentuan orangtua yang akan menerima kuasa asuh anak.

Hakim dalam kasus lain, saat mengetahui bahwa kedua orangtua si anak ialah perokok berat, memutuskan untuk menyerahkan kuasa asuh atas anak itu ke pihak selain orangtua.

Ada pula kasus di mana seorang anak berani meminta perlindungan hakim dari ancaman kesehatan yang bisa ia derita akibat terpapar asap rokok ibunya. Akhirnya hakim justru memenuhi permintaan anak tersebut.

Demi mengamankan anak-anak kita dari rokok, baik rokok bakar maupun rokok elektrik, hukum perlu masuk lebih dalam lagi guna menjamin kesehatan dan kesejahteraan anak-anak di Indonesia. Ke depannya, kita semua perlu semakin kompak menggelorakan perjuangan semesta untuk membangun sikap bersama bahwa rokok bakar maupun rokok elektrik adalah setara dengan narkoba! Semoga.

***

Halaman