Breaking News

Waspada Transformasi Terorisme

Penulis: Dedy Eryanto PhD Candidate, Victoria University of Wellington,  New ZealandPada: Kamis, 21 Mar 2019, 00:45 WIB


JUMAT 15 Maret 2019 menjadi one of New Zealand’s darkest day bagi sejarah panjang toleransi dan kedamaian di ‘Negeri Kiwi’. Demikianlah ungkapan perasaan mendalam Perdana Menteri New Zealand, Jacinda Ardern, menanggapi aksi teror brutal yang menyasar Masjid Al-Noor dan Masjid Linwood di Kota Christchurch.

Aksi biadab yang merenggut setidaknya 50 nyawa jemaah yang sedang bersiap menunaikan salat Jumat tersebut sontak menyedot keprihatinan dunia internasional. Pasalnya, pria kulit putih kelahiran Australia berusia 28 tahun bernama Brenton Tarrant menggunggah aksi teror tersebut di akun Facebook-nya. Saking brutalnya, jaringan medsos dan otoritas New Zealand memblokir peredaran video aksi sang teroris.

New Zealand dan toleransi

Lebih dari 2 tahun penulis hidup dan bergaul dengan masyarakat Wellington, ibu kota New Zealand, yang berjarak 305 kilometer dari Kota Christchurch. Penulis merasakan sendiri negeri berpenduduk 4,8 juta jiwa di barat daya Samudra Pasifik itu sangat mendukung pluralisme, kebebasan, dan toleransi.

Meskipun Kristen merupakan agama mayoritas, tetapi penduduk New Zealand termasuk paling sekuler di dunia. Hampir tidak pernah ada sentimen agama dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

Bahkan, dalam obrolan ringan sekalipun, sangat jarang warga setempat membahas topik yang berhubungan dengan agama. Namun, pemerintah memberikan jaminan penuh bagi setiap penduduk yang ingin melaksanakan ritual agama sesuai dengan keyakinan masing-masing, termasuk bagi muslim yang menyusun sekitar 1% populasi.

Di setiap kota utama New Zealand, seperti Wellington, Auckland, dan Christchurch dapat kita jumpai masjid. Di beberapa ruang publik seperti perpustakaan dan bandara, juga tersedia musala untuk umat Islam. Demikian pula dalam kegiatan resmi seperti seminar, sering kali kampus menyediakan menu halal dan vegetarian untuk menghormati penganut agama tertentu.

Isu radikalisme dan terorisme
Kejadian teror yang mengguncang Kota Christchurch tentu membuka wawasan baru dalam memandang isu radikalisme dan terorisme. Selama ini kedua permasalahan tersebut sering dinarasikan terkait erat dengan SARA atau persoalan sosial ekonomi masyarakat tertentu.

Fanatisme yang berlebihan terhadap ajaran agama tertentu dianggap mendorong seseorang nekat melakukan aksi teror terhadap penganut agama yang lain (Dawkins, 2016). Keputusasaan seseorang pada ketidakadilan ekonomi, sosial, atau politik di suatu negara menjadikan seseorang melakukan tindakan teror di tengah masyarakat (Joevarian, 2018).

Peristiwa teror di New Zealand seakan membantah argumen tersebut. Menurut Legatum Institute, sebuah lembaga riset yang berbasis di London, New Zealand termasuk kategori negara yang makmur di dunia sejajar dengan Inggris, Swedia, Belanda, dan Kanada.

Kemakmuran tersebut tecermin dari pelayanan dasar berkualitas yang disediakan pemerintah seperti pendidikan dan kesehatan. Dalam keseharian, sulit membedakan mana golongan kaya dan miskin.

New Zealand yang terkenal dengan alamnya yang indah dan terjaga serta hasil-hasil peternakan (livestock) yang diekspor ke penjuru dunia, berhasil menduduki peringkat ke-8 dunia untuk indeks kebahagiaan tertinggi menurut World Happiness Report, yang dirilis PBB pada 2018. Hal itu kembali menggugurkan teori yang mengatakan kondisi sosial dan ekonomi mendorong seseorang berubah menjadi teroris.

Meskipun polisi masih terus melakukan penyelidikan untuk mengungkap motif sang pelaku teror, ulasan di media setempat menyimpulkan bahwa hampir pasti tindakan ini dilakukan kelompok bawah tanah sayap kanan yang aktif menyuarakan kebencian rasial serta dendam peradaban melalui unggahan di medsos yang sangat menentang imigrasi muslim.

Padahal, ideologi chauvinis ini berlawanan dengan pandangan umum di New Zealand yang tidak pernah mempermasalahkan perbedaan agama, suku, ekonomi, sosial, ataupun pilihan politik warganya.

New Zealand, dengan penduduk asli Maori, telah berakulturasi secara damai dengan bangsa Eropa pendatang, khususnya Inggris. Bingkai keharmonisan yang telah berabad lamanya tercatat melalui Treaty of Waitangi pada 1840, antara Inggris dan lebih dari 500 kepala suku Maori.

Perjanjian ini mengikat kehidupan damai dan saling menghargai antara kedua belah pihak. Suku Maori juga memperoleh perlakuan khusus dalam kehidupan masyarakat, seperti menjadikan bahasa Maori menjadi bahasa resmi negara selain bahasa Inggris dan wajib diajarkan di sekolah-sekolah.

Selain itu, New Zealand juga membuka diri terhadap kehadiran para imigran lainnya, seperti Asia (India, Bangladesh, Pakistan, Vietnam, Malaysia, dan Indonesia), Arab (Irak dan Yaman), dan Afrika (Mesir, Sudan, Nigeria, dan Ghana).

Secara kebetulan terdapat komunitas muslim di antara para imigran tersebut. Mereka datang dan menetap di New Zealand dengan berbagai tujuan, seperti mencari penghidupan baru ataupun sedang menempuh pendidikan di berbagai tingkatan.

Kehadiran para imigran itu turut mewarnai kehidupan damai dan harmonis di New Zealand sehingga masyarakat New Zealand telah terbiasa dengan keanekaragaman budaya penduduknya, meskipun budaya Eropa dan Maori tetap menjadi identitas utama tatanan sosial masyarakat New Zealand.

Kejadian teror di New Zealand kali ini membuka ruang baru kesadaran kita bahwa aksi radikalisme dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. ‘Label teroris’ tidak bisa dinisbahkan pada ideologi tertentu dan kelompok tertentu.

Terorisme jauh lebih kompleks daripada itu. Yang terpenting pelajaran berharga dari peristiwa kelam di ‘Negeri Kiwi’ itu ialah bagaimana kita sebagai umat manusia membangun kesadaran bersama bahwa terorisme merupakan masalah yang kompleks dan musuh kemanusiaan yang harus kita lawan bersama. Salam perdamaian.

***

Halaman