Breaking News

Berjamaah melawan politik Uang

Penulis: Arifudin
Mahasiswa Pascasarjana UHAMKA
Pada, Rabu, 10 April 2019, 17.28 WIB



Tinggal beberapa hari lagi Negara kita akan menyelenggarakan pemilu serentak pada 2019, namun dalam pesta rakyat terbesar lima tahunan itu sering kali diwarnai oleh berbagai manuver politik para aktivis parpol dalam rangka menaikkan popularitas partai mereka, mulai dari mencuri start kampanye, membuat isu-isu negatif yang mendiskreditkan lawan politiknya, hingga ke money politics (melakukan politik uang).

Lantas bagaimana pandangan Islam tentang fenomena politik uang tersebut? Sebelum penulis menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita perjelas terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan istilah Money Politics atau politik uang itu. Karena merupakan sebuah kesalahan yang teramat fatal bagi seorang hakim bila ia menghukumi sesuatu, namun belum mengetahui substansinya.

Dalam berbagai sumber yang membahas tema di atas disebutkan bahwa politik uang adalah suatu bentuk pemberian baik berupa uang, barang, maupun janji terhadap seseorang supaya ia tidak menjalankan haknya untuk memilih ataupun supaya ia menjalankan haknya dengan cara tertentu pada saat pemilihan umum sesuai dengan keinginan oknum yang memberi.

Praktik seperti ini umumnya dilakukan oleh para simpatisan parpol, kader, dan bahkan pengurus parpol itu sendiri menjelang pemilihan umum dilangsungkan. Sehingga pada akhirnya para calon yang diusung oleh parpol yang bersangkutan dapat memperoleh suara terbanyak serta menduduki jabatan sebagai kepala daerah, anggota DPR, presiden dan lain-lain sesuai dengan kedudukan yang mereka inginkan.

Pengertian seperti ini mempunyai makna yang sama dengan suap atau yang disebut juga dengan risywah dalam bahasa agamanya. Al-Fayumi dalam al-Misbah dan al-Jurjani dalam Ta’rifat-nya menerangkan bahwa riswah adalah sesuatu yang diberikan kepada orang lain dengan tujuan menyembunyikan kebenaran ataupun membenarkan sebuah kebatilan. Maka berdasarkan keterangan ini, kami melihat bahwa money politics pada hakikatnya merupakan bagian dari riswah itu sendiri.

Di dalam al-Qur’an dan Rasulullah SAW dalam hadisnya. Allah SWT berfirman dalam Q.S al-Baqarah ayat 188 yang berbunyi :

"Dan janganlah (sebagian) kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan batil dan (janganlah) membawa urusan harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan jalan berbuat dosa, padahal kamu mengetahuinya".

Kemudian Rasulullah SAW melanjutkan sabdanya “Demi Allah yang tiada tuhan selain-Nya, sungguh akan ku berikan kepadanya hal ini dan itu”, maka seorang laki-laki membenarkan perkataan beliau sembari membaca Surah Ali ‘Imran ayat 77 “Sesungguhnya orang-orang yang memperjualbelikan janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga murah, mereka itu tidak memperoleh bagian di akhirat, Allah tidak akan memperhatikan mereka pada hari Kiamat dan tidak akan menyucikan mereka dan bagi mereka azab yang pedih”. (H.R. al-Bukhari)

Politik Uang (money politic) merupakan salah satu jenis dari risywah yang diharamkan apabila tujuannya untuk menyembunyikan kebenaran ataupun membenarkan sebuah kebatilan. Fatwa serupa juga telah dikeluarkan oleh Majlis Ulama Indonesia pada tahun 2000 yang lalu, bahkan dalam fatwa tersebut ditegaskan bahwa segala bentuk suap, uang pelicin, korupsi berjamaah, dan money politics hukumnya adalah haram. Selain melanggar hukum agama, perbuatan seperti ini juga melanggar hukum Negara yang mempunyai sanksi hukum yang tidak ringan, serta merusak tatanan kehidupan masyarakat.

Walahu'alam bishsh'wab!

Halaman