Breaking News

Menolak Pemimpin Berkadar Emosional

Penulis: Lasarus Jehamat Dosen Sosiologi FISIP Undana Kupang
Pada: Kamis, 11 Apr 2019, 04:15 WIB
KARAKTER pemimpin bangsa ini sudah bisa diketahui publik. Tanpa harus membaca tumpukan buku psikologi, masyarakat kiranya sudah dapat membuat peta, mana pemimpin autentik dan mana pemimpi, mana politisi dan mana negarawan. Realitas itu bisa dibaca dari sekian kali kampanye terbuka dan beberapa kali debat. Media Indonesia (31/3) membaginya menjadi pemimpin yang berlandaskan rasionalitas dan yang bertumpu pada emosionalitas.

Karakter diri dua calon pemimpin Indonesia, Capres 01 Joko Widodo dan Capres 02 Prabowo Subianto terang benderang dilihat di sana. Dalam setiap kampanyenya, Jokowi cenderung menunjukkan narasi kalem dan sejuk. Pelan dan halus tutur katanya. Nalar rasional terlihat jelas dalam diri Jokowi. Sebaliknya, Capres 02, Prabowo Subianto, kerap mengumbar narasi emosional. Bicaranya lantang, suaranya menggelegar, dan garang.

Jika Jokowi berbicara dalam nada optimistis, Prabowo cenderung pesimistis melihat laju gerak bangsa dan negara ini. Jika Jokowi menjelaskan realitas, Prabowo bermain di ruang idealitas, bahkan cenderung hiperbol. Bisa dipahami memang, Jokowi ialah calon petahana yang tengah memimpin Indonesia. Sebaliknya, Prabowo merupakan penantang yang ingin menggantikan Jokowi.

Amatan saya, minimal ada tiga peristiwa yang bisa menunjukkan karakter emosional Prabowo. Pertama, dalam debat keempat Pilpres 2019 (30/3), capres Prabowo memarahi penonton karena menertawai pernyataannya yang menyebut pertahanan Indonesia lemah. Kedua, dalam kampanye akbar di Yogyakarta, Senin (8/4), Prabowo menunjukkan ekspresi marah dengan menggebrak podium. Ketiga, pada kampanye akbar di Palembang, Prabowo lagi-lagi menyebut elite negara dengan sebutan ‘bajingan’ (Detik.com, 9/4).

Beragam pernyataan bernada emosi dan pesimistis Prabowo tersebut, sontak memantik diskusi banyak pihak. Pernyataan demikian cenderung membangun imaji keangkuhan dan keangkeran sekaligus. Di ruang yang lain, pernyataan yang bersifat pesimistis, cenderung membawa sindrom pesimisme akut dalam diri generasi muda bangsa.

Menjadi lebih aneh ketika pernyataan itu dikeluarkan dari mulut seorang elite, yang pernah dan akan menjadi ikon bangsa ini. Pernyataan bernada emosi dan pesimistis justru menjadi kontraproduktif. Itu karena bangsa ini tengah mencari pemimpin yang bisa membangun kesejukan dan menumbuhkan optimisme masyarakat.

Emosionalitas dan pesimistis tidak saja membangkitkan ego diri dan kelompok masyarakat, tetapi juga meruntuhkan semangat generasi muda bangsa akan roh optimisme yang tengah tumbuh. Dengan kata lain, emosi pemimpin tidak saja menyulut api perpecahan secara eksternal, tetapi juga menyingkirkan optimisme generasi muda dalam membangun bangsa.

Kesejukan dan energi optimisme

Berbagai narasi emosi dan pesimistis yang keluar dari mulut calon presiden Prabowo dalam beberapa minggu terakhir, hemat saya, cenderung melawan kekuatan besar dalam menjaga persatuan dan mendukung optimisme bangsa.
Itulah alasan mengapa kemudian banyak elemen bangsa menentang benih perpecahan dan pesimisme yang muncul dari dalam diri bangsa ini.

Harus diakui bahwa emosionalitas dan pesimistis yang berasal dari dalam diri cenderung meruntuhkan semangat pembangunan dalam membumikan visi dan misi besar Indonesia.

Hasil penelitian Elroy Dimson, Paul Marsh, dan Mike Staunton (2002) menunjukkan bahwa setiap orang yang berani mengambil risiko apa pun di tengah arus perubahan akan menjadi kelompok pemenang dalam perubahan itu.

Dalam Triumph of the Optimists, Elroy Dimson, Paul Marsh, dan Mike Staunton menyebut keberanian mengambil risiko sebagai syarat mutlak tumbuhnya optimisme. Optimisme tidak tumbuh dalam rezim ketakutan. Optimisme tidak dibangun dalam kerangka emosional. Optimisme bangkit dari kesejukan pemimpin dalam membangun bangsa dan negara.

Dalam perkembangan lain, Goldsmith (2008) mengatakan bahwa kesejukan dan generasi optimistis yang muncul dalam sebuah bangsa harus disertai tanggung jawab negara, terutama untuk urusan jaminan sosial, ketersediaan lapangan pekerjaan, sistem jaminan kesehatan, beragam pekerjaan alternatif, dan reformasi sistem keamanan sosial.

Dua pendapat tersebut kiranya bisa menjelaskan mengapa pernyataan yang bersifat emosional dan pesimistis laik dibunuh dan harus dibuang. Jika ingin individu mampu bersaing, negara harus menjamin terlaksananya beberapa program yang disebutkan Goldsmith tersebut.

Dalam logika demikian, usaha pemerintahan saat ini dalam membangun beberapa aspek yang disampaikan Goldsmith perlu diberi apresiasi.
Usaha bersama semua komponen tentu diperlukan agar pembangunan di semua aspek itu bisa berjalan dengan baik dan kelak mendapatkan hasil maksimal. Jika pembangunan dalam beberapa aspek itu telah dilakukan, masyarakat percaya Indonesia pasti tidak akan pecah, apalagi bubar.

Melawan arogansi dan pesimisme
Negara ini membutuhkan pemimpin yang berkadar negarawan. Rakyat merindukan pemimpin yang menarasikan kesejukan dan bukan berkadar emosi. Fakta itulah yang segera disadari semua komponen bangsa bahwa emosi dan pesimisme harus segera disingkirkan. Emosi dan Pesimisme harus dibuang ke tempat sampah peradaban manusia Indonesia.

Pernyataan bernada emosi dan perilaku yang menunjukkan emosi itu, yang sering dipertontonkan capres Prabowo, tentu memiliki beberapa implikasi seperti disampaikan Dimson, Paul Marsh dan Mike Staunton, serta Goldsmith tersebut.

Di sudut yang lain, kemarahan yang ditunjukkan seorang pemimpin di ruang publik, tentu memiliki dampak ikutan. Secara teoritis, pernyataan seperti itu akan memperkuat integrasi internal, tetapi cenderung melemahkan adaptasi eksternal. Fakta seperti itu amat berbahaya dalam sebuah negara yang amat plural seperti Indonesia.

Narasi pesimistis di tempat yang lain justru bisa menjadi bumerang. Pesimisme tanpa didukung penjelasan tentang sebab pesimisme berbasis data, berdampak pada munculnya gejala distrusting (ketidakpercayaan) publik.

Selama 32 tahun, Indonesia berada dalam kungkungan arogansi dan keangkeran Orde Baru. Semua hal dibungkus beragam narasi eufemistis dan sangat ideologis. Buah yang muncul kemudian ialah kerapuhan bangsa dan negara dalam beragam aspek.

Emosionalitas dan sikap pesimistis calon pemimpin bangsa hanya dapat dibunuh dan disingkirkan dengan narasi kesejukan dan optimisme semua elemen bangsa. Dalam kesejukan, optimisme akan tumbuh subur.

Dengan optimisme itu, kita dapat mengambil risiko apa pun. Negara bertugas menyiapkan semua infrastruktur keamanan bangsa dan membentuk kebijakan, yang tidak hanya menumbuhkan semangat bersama, tetapi juga optimisme dalam diri masyarakat.
Sekarang merupakan momen semua komponen bangsa membangun kesejukan politik dan optimisme bersama untuk keutuhan bangsa dan NKRI.

***

Halaman