Breaking News

Nasionalisme

Penulis: Ratno Lukito Direktur Riset dan Publikasi Yayasan SukmaPada: Senin, 22 Apr 2019, 06:10 WIB


MENURUT Lothrop Stoddard, nasionalisme ialah kepercayaan oleh sebagian besar orang bahwa mereka memiliki perasaan kebersamaan sebagai sebuah bangsa. It is a sense of belonging together as a ‘nation’. Bangsa (nation) itu sendiri ialah kelompok komunitas yang disatukan dalam kebersamaan dan diorganisasikan di bawah satu pemerintahan serta tinggal bersama dalam suatu teritorial untuk mencapai satu tujuan tertentu (L Stoddard, The New World of Islam, 1966: 137).

Dalam hal ini, ‘negara’ ialah manifestasi material dari nilai-nilai ideal yang dibangun para nasionalis itu. Nilai ideal ini bisa saja telah berada dalam relung hidup masyarakat sejak ratusan masa silam yang secara turun-temurun ditularkan kepada generasi berikutnya. Perasaan kebersamaan itu dengan demikian muncul bukan tanpa maksud dan tidak pula secara tiba-tiba.

Proses terbentuknya nasionalisme tidaklah semudah dan secepat yang diinginkan. Dia terbentuk dengan baik jika faktor kimiawinya dengan tepat memberikan celupan warna yang spesifik. Tidak mesti suatu masyarakat yang berhasil membentuk suatu negara itu dapat bersatu dalam suatu nasionalitas. Sebagai contoh, karena tidak adanya perasaan kebersamaan, imperium Habsburg Austria-Hungaria yang menyatukan beberapa wilayah kekuasaan sejak awal abad ke-19 dapat tercerai-berai melalui peperangan.

Nasionalisme modern
Tak dapat disangkal bahwa spirit nasionalisme merupakan satu bentuk dinamika baru yang muncul pada era modern ini. Di Eropa, semangat nasionalisme ini muncul dan menjadi kesadaran bersama sehingga secepat kilat ia mampu mengubah lanskap kehidupan kemasyarakatannya. Karena itu, abad ke-19 dikatakan sebagai abad nasionalitas (the age of nationalities) dalam catatan sejarah wilayah ini.

Namun, itu tidak berarti bahwa nasionalisme merupakan fenomena tunggal yang terjadi di daratan Eropa saja. Elan vitalnya merembes ke berbagai pojok dunia dan akan terus memengaruhi gerak transformasi masyarakat dunia di mana pun berada. Dalam situasi kekinian, nasionalisme telah menjadi karakter vital dari semua satuan masyarakat, yang tanpanya eksistensi kesatuan itu menjadi tiada makna.

Lalu apa yang menjadikannya berperan sebagai suatu nilai yang begitu kuat mencengkeram kehidupan kekini­an? Tidak ada sejatinya yang misterius dari nasionalisme itu. Dia tidak lain ialah sebuah bentuk pemikiran atau apa yang dikatakan Stoddard sebagai sebuah keyakinan.

Suatu kepercayaan bahwa seluruh anggota masyarakat memiliki alasan dan kebutuhan sama untuk berkumpul dalam kebersamaan, diikat suatu kehendak bersama, meskipun penuh kesadaran bahwa mereka berasal dari berbagai ikatan nilai dan tradisi yang berbeda. Dari situlah muncul suatu bangsa (nation) yang menjadi wahana bagi anggota masyarakat tersebut untuk berkumpul dan terorganisasi dalam satu pemerintahan.

Dengan demikian, kita menjadi paham bahwa terbentuknya suatu negara-bangsa bukan karena faktor lain, melainkan karena perasaan kebersamaan. Hal ini menjadi mukjizat yang mampu mengalahkan berbagai rintangan kebersatuan dalam suatu wilayah nasionalitas. Jika perasaan ini hilang, tidaklah ayal munculnya energi yang memorakporandakan segala bentuk kesatuan.

Dalam satu masa tertentu, peperangan antara masyarakat dari belahan utara dan selatan terjadi di awal sejarah pembentukan AS (1861-1865). Namun, karena perasaan kebersamaan itu berhasil dipertahankan, pertumpahan darah dapat dihentikan dan kembali bersatu.

Di sisi lain, kita melihat kejayaan imperium Soviet yang menyatukan ribuan kilometer wilayah di sebelah utara benua Asia selama lebih dari tujuh dekade dapat terpecah dengan gampangnya pada awal 1990-an karena perasaan kebersamaan yang sejak awal mungkin dipaksakan.

Pendidikan dan nasionalisme bangsa
Seperti halnya India, RI ialah negeri paradoks. Penuh warna keberbedaan. Namun, berbeda dengan India yang sejak awal kesejarahannya tidak pernah mampu menghidupkan ide kesatuan politik antarberbagai kelompok masyarakat di tanah yang secara geografis menyatu itu, RI memiliki modal yang sangat subur dengan basis-basis nilai kebersamaan.

Ratu Kalinyamat, sebagai contoh. Penguasa Jepara (Rainha de Japara) pada pertengahan abad ke-16 ini berhasil membangun jaringan kerja sama dengan beberapa kerajaan di gugusan pulau Nusantara untuk mengusir kekuatan asing. Ratu ini pula yang mampu mengagetkan pasukan Portugis di Malaka saat itu karena serangan kapal-kapalnya dari Jepara yang mampu mengangkut ribuan pasukan. Artinya, jika di India, kebersatuan (politik) itu muncul karena tantangan invasi asing (sejak dari invasi suku Aryan, Islam, hingga pengaruh kekuasaan Inggris), di Indonesia kebersatuan itu muncul sebagai kekuatan sentrifugal yang muncul dari kesadaran internal.

Munculnya negara-bangsa yang menjadi wadah dari nasionalisme di negeri ini sejati­nya merupakan berkah dari gerakan revolusi yang muncul di AS (1765-1783) dan Perancis (1789-1799). Eropa pada akhir abad ke-19 merupakan masa perubahan besar-besaran tatanan kehidupan masyarakat terjadi dengan begitu cepatnya.

Dengan tidak terlalu lama beresonansi ke dunia timur dan selatan, utamanya melalui penjajahan, revolusi ini menjadi awal hadirnya tatanan dunia baru yang melahirkan nation-state yang dipandang lebih sesuai dengan kehendak kehidupan lebih baik saat itu.

Sebagai wadah dari nasionalisme, negara-bangsa pada esensinya diciptakan untuk mendorong suburnya rasa kebersamaan masyarakat. Baik secara politik maupun sosial-budaya, meski mereka berasal dari latar yang beragam.

Jika demikian, negara-bangsa tidak diciptakan untuk menyeragamkan berbagai perbedaan dan variasi nilai kehidupan di dalamnya. Dia justru mengefikasi keragaman itu dan meningkatkannya pada level di mana keberbedaan itu justru menjadi pendorong bagi munculnya kesatuan. Dus, meski berbeda-beda, mereka tetaplah satu, yaitu bersatu pada dan karena tujuan yang sama, mewujudkan cita-cita dibentuknya negara-bangsa itu sendiri.

Inilah hikmah yang termaktub dari ucapan Mahatma Gandhi di atas: jika kita sudah sepakat, kita hendak hidup bersama dalam wadah negara-bangsa, tidaklah tepat berpikir parsial dari serpihan-serpihan kecil yang membentuk bangsa ini secara keseluruhan. Kita hendaknya berpikir dengan lensa lebih besar, yaitu cita-cita kebersamaan kita, dengannya eksistensi kebangsaan menjadi ada dan bermakna.

Persoalannya ialah apakah sistem pendidikan kita telah berhasil menumbuhsuburkan perasaan kebersamaan kita sebagai sebuah bangsa? Munculnya berbagai variasi sekolah ekslusif dan segregatif di Tanah Air sejak dekade 1990-an, sebagai contoh, entah itu dibangun atas dasar agama, level ekonomi, atau garis primordial lainnya, sejatinya telah mengkhianati amanat UU Sistem Pendidikan Nasional kita.

Jika pendidikan ialah usaha sadar dan terencana untuk menciptakan suasana belajar dan proses pembelajar­an agar peserta didik dapat aktif mengembangkan potensinya­ serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara, jelas bahwa nasionalisme itu menjadi conditio sine qua non bagi tujuan pendidikan di Tanah Air.

Di sini, perasaan kebersamaan atau nasionalisme hanya dapat dibangun jika pro­ses pembelajaran itu menumbuhkan sikap dan perilaku moral kebersamaan, bukan sebaliknya, memperuncing perbedaan. Pendidikan yang menyatukan berbagai anasir partikular yang membentuk negara-bangsa itulah kiranya yang menjadi postulat bagi keseluruhan proses konstruksi sistem pendidikan kita. Wallahualam.

***

Halaman