Breaking News

Pelajaran Berharga dari Sri Lanka

Penulis: Bagong Suyanto Guru Besar FISIP Universitas Airlangga Tengah melakukan penelitian tentang radikalisme dan intoleransiPada: Kamis, 25 Apr 2019, 03:45 WIB

PERAYAAN Paskah yang digelar umat kristiani di berbagai belahan dunia ternodai ulah teroris. Tepat pada saat umat kristiani merayakan Paskah, delapan ledakan bom merobek Kolombo, Sri Lanka. Di hari yang semestinya dirayakan umat kristiani dengan penuh puji syukur, tiga bom meledak di hotel bintang lima, dan tiga gereja di Sri Lanka. Ledakan bom itu menewaskan setidaknya 321 orang yang tidak bersalah dan 500 lebih orang lain terluka. Sejumlah saksi menyebutkan ledakan yang menguncang Sri Lanka itu disebabkan bom bunuh diri.

Peristiwa pengeboman di hari-hari keagamaan yang terjadi di Sri Lanka itu sebetulnya bukan hal yang terlalu mengejutkan. Serangan pelaku teror biasanya memang tidak dilakukan di sembarang hari. Pengalaman selama ini telah banyak membuktikan bahwa di hari-hari besar perayaan keagamaan, seperti hari Paskah, atau setiap memasuki Desember, terutama menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, ancaman aksi teorisme biasanya selalu menghantui. Di tengah umat kristiani tengah mempersiapkan peringatan Natal dan masyarakat berencana mengisi hari libur Tahun Baru, justru di saat seperti inilah biasanya para teroris bakal menjalankan aksinya.

Makin sulit

Dalam kasus pengeboman di tiga gereja dan tiga hotel berbintang di Sri Lanka, hingga saat ini memang belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab sebagai pelaku poengeboman. Terlepas siapa yang nantinya terbukti sebagai pelaku aksi teror bom di Sri Lanka, apa yang terjadi di Kota Kolombo ini sesungguhnya merupakan pengalaman yang bisa menjadi tempat untuk berkaca.

Meski berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurangi ruang gerak pelaku teror, ternyata hal itu sama sekali tidak menjadi jaminan bahwa aksi teror akan dapat dicegah. Di negara mana pun, yang namanya terorisme selalu mencari celah dan pandai memanfaatkan kurangnya jumlah aparat dan kelengahan masyarakat. Justru pada saat masyarakat dan aparat tidak menduga bakal terjadi aksi teror, di saat itulah serangan dadakan dari para teroris akan terjadi.

Secara umum memang aksi teror sering kali terjadi secara acak dan tidak memiliki pola yang jelas, tetapi bagaimanapun hari besar keagamaan, seperti Paskah, Natal, dan Tahun Baru memang menjadi salah satu titik krusial bagi terjadinya aksi teror di berbagai belahan dunia--termasuk di Indonesia. Di Tanah Air, hampir setiap tahun, aparat kepolisian selalu menangkap sejumlah pelaku teror menjelang tutup tahun. Pada 2017 dan 2018 misalnya, pihak berwajib dilaporkan telah menangkap belasan terduga teroris sekitar Desember.

Simbol-simbol kapitalisme dan tempat ibadah ialah tempat-tempat yang sering kali menjadi sasaran pelaku teror. Di berbagai daerah, gereja yang merupakan tempat ibadah umat Kristen, tidak sekali-dua kali menjadi target sasaran aksi teroris. Hotel dan pusat keramaian yang dipersepsi sebagai simbol kapitalisme dan merepresentasikan kekuasaan Amerika Serikat juga biasanya menjadi target sasaran dari pelaku teror yang tengah menjalankan aksinya.

Aparat keamanan sendiri sering kali kecolongan menghadapi ulah teroris yang tidak terduga. Di berbagai belahan dunia, jumlah aparat yang terbatas sering menjadi kendala dalam upaya penanganan aksi terorisme. Di Indonesia, misalnya, bisa dibayangkan, dengan jumlah gereja di berbagai daerah yang mencapai hampir 50 ribu lokasi, tentu tidak mudah bagi aparat untuk memastikan mereka tidak kecolongan ulah teroris yang makin lama makin tidak terduga.

Berbeda dengan aksi teroris di masa lalu yang kebanyakan terkoordinasi di bawah instruksi kelompok tertentu, belakangan ini aksi teroris sering kali dilakukan dalam kelompok kecil, yang merupakan lone wolf. Walaupun aparat kepolisian di Indonesia sudah menyiapkan hampir 100 ribu personel untuk mengamankan perayaan keagamaan, seperti Paskah, Natal, dan Tahun Baru melalui kegiatan rutin Operasi Lilin untuk menjaga tempat-tempat yang dinilai rawan aksi teror, seperti terminal bus, stasiun kereta api, pelabuhan, bandara, pusat perbelanjaan, tempat wisata, dan gereja. Namun, bukan tidak mungkin masih ada celah yang dimanfaatkan pelaku teror untuk menebar aksinya.

Modus operandi teroris yang makin licin dan sulit dideteksi menyebabkan upaya untuk mengantisipasi aksi mereka menjadi makin sulit. Pengalaman dalam satu-dua tahun terakhir memperlihatkan bahwa tempat, kapan, dan bentuk aksi teror yang dilakukan teroris tidak lagi sama dengan masa sebelumnya. Mereka berani menyerang markas polisi, walau hanya berbekal senjata seadanya, dan orang yang menjadi pelakunya pun kini juga merambah kaum perempuan dan anak-anak.

Peran masyarakat
Menghadapi ulah teroris yang makin tidak terduga, upaya yang perlu dikembangkan aparat tentu tidak sekadar menunggu dan menjaga tempat-tempat publik dan tempat ibadah agar tidak disantroni teroris. Jika dibandingkan dengan modus operandi teroris yang tidak terduga dan pola pergerakan mereka yang makin sulit ditebak, tentu tidak mungkin negara kalau hanya mengandalkan kepada peran aparat keamanan.

Seberapa pun banyak personel aparat diturunkan untuk menjaga lokasi yang kemungkinan menjadi target teroris, niscaya kemungkinan untuk kecolongan masih tetap ada. Untuk memastikan agar ruang gerak teroris tidak makin lebar, selain operasi rutin aparat, yang dibutuhkan tak pelak ialah keterlibatan masyarakat dan lembaga sosial yang ada untuk ikut berperan serta mengawasi keamanan lingkungan di sekitarnya.

Mempersempit ruang gerak dan kemampuan melakukan deteksi dini ialah dua prasyarat minimal yang dibutuhkan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya aksi terorisme di lingkungan kita. Membiasakan masyarakat selalu bersikap waspada terhadap kehadiran orang-orang asing di sekitarnya yang mencurigakan, keberanian masyarakat untuk bertanya kepada pendatang baru yang hadir di sekitar mereka ialah hal-hal elementer yang perlu dilakukan untuk berjaga-jaga.

Terorisme ialah masalah kita bersama. Tidaklah mungkin upaya menjaga keamanan dan ketenteraman masyarakat hanya kita serahkan kepada aparat. Tanpa dukungan dari masyarakat, kemungkinan kita kecolongan lagi akan makin besar. Semoga kasus teror bom Paskah yang terjadi di Sri Lanka menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi seluruh masyarakat di berbagai negara agar tidak mengalami hal yang sama.

***

Halaman