Breaking News

Pembangunan B&R dan Masa Depan Tiongkok-Indonesia

Penulis: Sun Weide Kuasa Usaha Ad-Interim, Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok di IndonesiaPada: Sabtu, 27 Apr 2019, 10:40 WIB



Mewakili Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden RI Jusuf Kalla saat ini sedang memimpin delegasi tingkat tinggi Indonesia untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ke-2 Belt and Road Forum (B&R) yang digelar di Beijing, Tiongkok.

KTT B&R ini dihadiri ribuan delegasi dari setidaknya 150 negara dan 90 organisasi internasional. KTT ini bertujuan membahas masterplan pembangunan dalam kerangka Inisiatif B&R (Inisiatif Sabuk dan Jalan) demi menciptakan cetak biru kerja sama yang ideal dan menguntungkan bagi semua pihak.

KTT B&R merupakan platform kerja sama internasional tertinggi dalam kerangka Inisiatif B&R. KTT Ke-2 B&R tahun ini mengusung tema Bersama membangun B&R demi menciptakan masa depan yang cerah. Fokus KTT ialah memajukan kerja sama internasional dalam kerangka B&R demi mewujudkan pertumbuhan yang berkualitas tinggi. 


Pertemuan yang mendapat perhatian luas dari kalangan masyarakat internasional ini dihadiri hampir 40 pimpinan negara, lebih dari 360 pejabat tingkat menteri, dan 100 lebih petinggi organisasi internasional, dan lebih dari 4.100 jurnalis media dari Tiongkok maupun mancanegara. Para delegasi dalam pertemuan ini mencakup sejumlah besar wilayah di lima benua serta mewakili kalangan pemerintahan, LSM, dunia usaha, institusi akademik, dan lain-lain.

Inisiatif B&R memang pertama kali digagas oleh Tiongkok, tetapi peluang dan hasilnya bisa dinikmati seluruh dunia. Sejak dicetuskan, hampir enam tahun silam, inisiatif ini telah membuahkan hasil yang kaya dan memuaskan. Inisiatif ini telah menjadi kerangka kerja sama internasional yang sangat luas partisipasinya di dunia serta telah menjadi barang publik yang mendapat sambutan hangat di berbagai penjuru dunia. 


Saat ini, jaringan Inisiatif B&R telah mencakup 126 negara dan 29 organisasi internasional. Konsep dan inisiatif kerja sama yang berhubungan dengan B&R juga telah tertuang dalam berbagai dokumen dari mekanisme kerja sama internasional utama, seperti PBB, G-20, APEC, dan Organisasi Kerja Sama Shanghai.

Kesejahteraan rakyat

Volume perdagangan antara Tiongkok dengan negara-negara yang tergabung dalam Inisiatif B&R telah melebihi US$6 triliun, dengan nilai investasi melebihi US$80 miliar. Tiongkok telah bekerja sama dengan berbagai negara dalam kerangka ini untuk membangun 82 zona kerja sama, yang menciptakan hampir 300 ribu kesempatan kerja di negara-negara terkait. 


Pembangunan ini tentu mendatangkan peluang pertumbuhan signifikan dan berperan memajukan kesejahteraan rakyat di negara-negara tersebut. Sekjen PBB telah berulang kali menyatakan bahwa Inisiatif B&R memiliki arti penting dalam mewujudkan target PBB di bidang pengurangan jumlah penduduk miskin di seluruh dunia.

Menurut riset terbaru, yang dirilis Bank Dunia dan sejumlah organisasi internasional lainnya, kerja sama B&R akan menurunkan waktu tempuh pengangkutan barang di dunia sebesar 1,2%-2,5%, sehingga akan menurunkan biaya dalam perdagangan dunia sebesar 1,1%-2,2% dan akan mendorong pertumbuhan ekonomi global setidaknya sebesar 0,1%.

Indonesia memiliki posisi penting dalam Inisiatif B&R ini. Di Indonesia-lah Tiongkok pertama kali mencetuskan gagasan Jalan Sutra Maritim Abad ke-21, yang merupakan salah satu bagian utama dari Inisiatif B&R. Bertolak dari kepentingan kesejahteraan rakyat di kedua negara, Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Indonesia Joko Widodo telah mencapai kesepahaman untuk mewujudkan sinergi antara Inisiatif B&R dengan strategi pembangunan Indonesia untuk menjadi poros maritim dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, kesepakatan ini telah memandu hubungan antara Tiongkok dan Indonesia memasuki jalur cepat kerja sama yang saling terkait dan saling menguntungkan.


Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung merupakan proyek monumental pertama dalam upaya sinergi strategi pembangunan Tiongkok dan Indonesia. Proyek yang akan menjadi jalur kereta cepat pertama di seluruh Asia Tenggara ini telah memasuki tahap implementasi menyeluruh. Kereta cepat itu nantinya akan memangkas waktu tempuh dari Jakarta ke Bandung yang semula 3 jam menjadi hanya 40 menit. Proyek kereta cepat ini juga diharapkan akan menggairahkan perekonomian di daerah-daerah yang dilewati jalur kereta.

Pada Mei 2018, pemerintah Tiongkok dan Indonesia juga telah menyepakati kerangka kerja sama Koridor Ekonomi Komprehensif Regional yang digagas Presiden Joko Widodo. Pada Maret 2019, rapat pertama Komite Pengarah Bersama untuk Pembangunan Koridor Ekonomi Komprehensif Regional Kerja Sama Pemerintah RI dan Tiongkok telah sukses digelar di Bali. 


Dalam rapat itu, kedua negara telah mencapai sejumlah kesepakatan positif dalam hal pembangunan kerja sama kapasitas dalam kerangka B&R, perencanaan kerja sama koridor ekonomi, kerja sama di bidang pelabuhan utama dan taman industri, dan lain-lain. Kerja sama ini meliputi empat provinsi Indonesia, yaitu Sumatra Utara, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, dan Bali. Pembangunan Koridor Ekonomi ini diharapkan akan semakin menggairahkan pertumbuhan ekonomi daerah di Indonesia.

Dengan adanya komitmen untuk mewujudkan sinergi strategi pembangunan antara Tiongkok dan Indonesia, maka kerja sama kedua negara di berbagai bidang juga terus mengalami peningkatan. Peningkatan kerja sama ini tampak nyata di sektor pembangunan infrastruktur. 


Tiongkok dan Indonesia telah menggalang kerja sama untuk menyelesaikan proyek-proyek besar, seperti pembangunan Jembatan Tayan di Kalimantan Barat yang menjadi jembatan lengkung baja terbesar di Indonesia, pembangunan kereta Lintas Rel Terpadu (LRT) Palembang yang merupakan LRT pertama di Indonesia, serta pembangunan Waduk Jatigede yang merupakan bendungan terbesar kedua. Penyelesaian berbagai megaproyek ini membawa manfaat besar bagi penduduk setempat, serta memberi peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Di bidang lain, Tiongkok juga terus memperluas pintu impor bagi produk-produk khas Indonesia. Volume perdagangan antara kedua negara tahun lalu telah mencetak rekor tertinggi sebesar US$77,4 miliar. Neraca perdagangan kedua negara juga terus berkembang ke arah yang lebih seimbang.

Selain itu, Tiongkok juga mempertahankan posisi sebagai negara investor asing terbesar ketiga bagi Indonesia. Kedua negara telah memperbarui perjanjian swap bilateral dalam mata uang lokal, serta telah menambah nilainya hingga menjadi 200 miliar yuan (atau sekitar US$30 miliar). 


Kedua negara juga telah mencapai kesepahaman terkait peningkatan impor Tiongkok untuk minyak sawit Indonesia, serta dalam hal kerja sama pendanaan proyek penanaman kembali (replanting) pohon sawit. Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok juga merupakan negara sumber wisatawan asing terbesar bagi Indonesia, sekaligus sebagai destinasi studi keluar negeri terbesar kedua bagi pelajar Indonesia.

Pembangunan bersama Inisiatif B&R dan Poros Maritim Dunia telah terbukti selaras dengan kondisi dan kebutuhan pembangunan kedua negara. Penyinergian strategi pembangunan kedua negara ini juga akan mendorong kemajuan hubungan kemitraan strategis komprehensif antara Tiongkok dan Indonesia. Kerja sama yang erat ini tentunya akan membawa kemakmuran bagi kedua negara beserta segenap rakyatnya. Saya percaya, keberhasilan penyelenggaraan KTT B&R kali ini akan mendatangkan masa depan yang cerah bagi kedua negara dan bagi peningkatan hubungan bilateral antara Tiongkok dan Indonesia.

***

Halaman