Breaking News

Puasa dan Transformasi Kepemimpinan

Penulis: Khoiruddin Bashori Psikolog Pendidikan Yayasan Sukma JakartaPada: Senin, 06 Mei 2019, 07:50 WIB


MARHABAN ya Ramadan, selamat datang bulan suci Ramadan. Bulan yang penuh berkah, rahmat, dan ampunan. Puasa tahun ini terasa sangat istimewa. Itu karena bertepatan dengan saat bangsa ini baru saja selesai menggelar pesta demokrasi 'terbesar' di dunia dengan aman dan damai meskipun masih menyisakan sejumlah dinamika.

Harapan rakyat kecil, memasuki Ramadan, semua pihak dapat menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang bukan saja tidak layak menurut fatsun politik, tetapi juga dianggap tercela oleh norma-norma agama. Sejak jauh hari jelang masa kampanye hingga hari ini, aroma kebencian, kecurigaan, dan pelecehan masih saja terjadi. Para 'guru' penjaga kearifan religius tidak jarang juga larut untuk tidak mengatakannya menjadi 'motivator' dalam suasana gaduh demikian.

Berlatih zuhud

Puasa menjadi bagian dari proses belajar yang berkesinambungan. Baik dalam konteks pribadi, bermasyarakat, berbangsa, maupun bernegara. Dengan berpuasa, pemimpin dilatih untuk lebih dapat mengendalikan diri dan meningkatkan kemampuan reflektif dalam menjalani kehidupan. Puasa melatih kita berlaku zuhud, tetapi bukan dalam makna berpaling dari dunia. Jika pengertian ini yang diambil akan bertabrakan dengan perintah Tuhan, innii jaa'ilun fil ardli khaliifah (QS 2:30), 'Aku hendak menjadikan khalifah di bumi'. Khalifah adalah pemimpin yang diberi tugas utama untuk memakmurkannya (QS 11:61).

Zuhud sebaiknya dimaknai, seperti kata Rumi, mempunyai kapasitas untuk menyapih. Memiliki 'dunia' tetapi tidak menempel di hati. Menjadi penguasa tetapi tidak terpenjara oleh kekuasaannya. Adagium Lord Acton bahwa power tends to corrupt, but absolute power corrupts absolutely, kekuasaan cenderung untuk disalahgunakan dan kekuasaan mutlak pasti dipersalahgunakan, tidak berlaku bagi pribadi zuhud. Bagi mereka, amanah kekuasaan pasti akan dipergunakan bagi sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat.

Zuhud dapat pula dimaknai sebagai kesabaran untuk melaksanakan perintah-perintah Tuhan, betapa pun beratnya. Dalam situasi sosial politik seperti sekarang ini, pemimpin yang autentik diharapkan tetap dapat istikamah di jalan Tuhan, bukan terseret dalam pusaran pragmatisme politik yang sering bertabrakan dengan nilai-nilai ilahiah. Kejujuran dan kesungguhan melayani, dua ciri penting pemimpin zuhud, dalam keadaan apa pun semestinya tidak boleh ditukar dengan kebohongan. Kekuasaan yang diperoleh dengan jalan dusta pasti jauh dari keberkahan.

Transaksional ke transendental
Puasa diharapkan dapat menjadi momentum hijrah bagi pemimpin, dari transaksional menuju transendental. Politik karenanya tidak sekadar dimaknai sebagai siapa mendapatkan apa, tetapi harus lebih tinggi dari itu. Transendental secara harfiah berarti sesuatu yang berhubungan dengan yang transenden. Menurut Tan (2000), pemimpin transendental semestinya lebih dapat melihat ke masa depan. Memiliki visi yang jelas, apa yang hendak dilakukan untuk kemajuan bangsa di masa yang akan datang. Sudah barang tentu tidak terbatas hanya pada hal-hal yang bersifat material.

Mereka melakukan itu dengan menciptakan visi bersama tentang masa depan yang dicita-citakan dan menarik bagi rakyat. Memang mengembangkan visi yang kuat ialah tindakan penciptaan. Pemimpin transendental paham benar, semua prestasi dimulai dari imajinasi. Seperti yang dikatakan George Bernard Shaw, "Imagination is the beginning of creation. You imagine what you desire, you will get what you imagine, and at last you create what you will." Imajinasi adalah awal dari penciptaan. 


Anda membayangkan apa yang Anda inginkan, Anda akan mendapatkan apa yang Anda bayangkan, dan akhirnya Anda menciptakan apa yang Anda inginkan. Penelitian menunjukkan, perut lapar justru menguatkan kemampuan berpikir reflektif-futuristik.

Selain itu, pemimpin transendental mampu mengomunikasikan visinya dengan baik, dan dengan cara yang menarik sanggup menginspirasi yang lain untuk mencapainya. Manakala pemimpin tidak memiliki kemampuan komunikasi memadai, prospek organisasi suram, dan orang akan mengalami demoralisasi. Oleh karena itu, selama berpuasa, pemimpin diharapkan lebih memperhatikan QS 49:11, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum memperolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). 


Dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk."

Mendengarkan keheningan (listening to silence) merupakan kemampuan penting pemimpin transendental. Helen Keller, yang terlahir buta, tuli dan bisu, merupakan contoh pribadi yang mampu mengembangkan persepsi internal yang hebat dalam mendengarkan keheningan dengan hati, pikiran, dan jiwanya. Kejernihan hati, pikiran, dan jiwa yang diasah lewat puasa akan meningkatkan kemampuan pemimpin dalam melihat silent truth, kebenaran yang tersembunyi. 


Dalam situasi krisis, tidak semua kebenaran kasatmata, apalagi kalau sudah dibungkus kepentingan-kepentingan sesaat orang-orang di sekitarnya. Diperlukan kepekaan batin untuk dapat memilah mana yang sejati dan mana yang provokasi. Para pemimpin yang bertindak berdasarkan data yang sudah disaring pendukungnya, tentu saja tidak akan mampu melihat masalah nyata secara efektif. Pemimpin transendental semestinya mendengarkan autentisitas 'suara hati' sebelum bertindak.

Mencium aroma tanpa bau ialah kapasitas lain pemimpin transendental. Semacam ketajaman intuitif. Salah satu kelemahan banyak organisasi ialah mereka reaktif. Mulai bertindak setelah mencium bau asap. Seperti dunia perbankan yang baru mulai memperketat sistem manajemen kreditnya setelah dikepung kredit macet yang besar. Kebanyakan organisasi tergopoh-gopoh memperkuat fundamental mereka ketika menghadapi krisis. 


Lain dengan pemimpin transendental, mereka ini dapat bertindak sebelum tanda-tanda itu ada. Karena itu, organisasi yang memiliki kepemimpinan transendental tidak terlalu memaksakan diri, karena telah memiliki cadangan dan rencana darurat untuk menghadapi krisis.

Memahami kebutuhan yang belum diartikulasikan ialah ciri lain pemimpin transendental. Beberapa perusahaan teknologi informasi paling sukses saat ini misalnya miliki pemimpin transendental yang memahami kebutuhan yang belum diartikulasikan pelanggan. Dalam buku Competing for the Future, Gary Hamel dan CK Prahalad (1996) menunjukkan, para pemimpin industri di masa depan harus melampaui keberadaan customerled. 


Mereka berpendapat, pelanggan kurang mengerti apa yang sesungguhnya mereka perlukan di masa depan. Pelanggan memiliki kebutuhan yang tidak disebutkan. Puluhan tahun lalu, berapa banyak orang yang meminta telepon seluler, laptop, dan printer di rumah? Oleh karena itu, pemimpin autentik harus memahami benar aspirasi rakyatnya, meskipun belum dinyatakan dengan terus terang.

Pemimpin transendental juga mampu mengganti ketakutan dengan keberanian. Perdana Menteri Pertama India, Jawaharlal Nehru mengatakan, "There is perhaps nothing so bad and so dangerous in life as fear." Bisa jadi tidak ada hal yang begitu buruk dan berbahaya dalam hidup selain rasa takut. Ketakutan ialah sebuah emosi yang begitu kuat sehingga merampas kekuatan kita untuk bertindak dan bernalar. Keberanian bukanlah tidak adanya rasa takut.

Pada akhirnya, memasuki Ramadan kali ini diharapkan semua pihak dapat benar-benar menjalankan petuah nabi, "Puasa itu bagaikan perisai, maka apabila seseorang kamu berpuasa, jangan berkata kotor dan jangan berkata kasar. 

Jika seseorang mencacinya atau menyerangnya maka hendaklah dia mengatakan. Aku ini puasa." (sahih Bukhari). Akhirnya, semoga Tuhan Mahapengampun memaafkan kekhilafan kita selama ini, yang telah menyebut saudaranya dengan sebutan 'kecebong' atau 'kampret'.

***

Halaman