Breaking News

Ramadan, Momen Jihad Literasi

Penulis: Anggi Afriansyah Peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan LIPIPada: Sabtu, 11 Mei 2019, 06:00 WIB 


PROFESOR Quraish Shihab dalam buku Wawasan Alquran: Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat (2006) menarasikan dengan sangat baik perihal perintah membaca dalam momen turunnya ayat pertama Alquran, “… iqra berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah alam, bacalah tanda-tanda zaman, sejarah, diri sendiri, yang tertulis dan tidak tertulis.”

Perintah Allah SWT dalam Surah Al-‘Alaq ini menurut Prof Quraish adalah agar Nabi Muhammad SAW dan umatnya membaca apa saja, selama bacaan tersebut Bismi Rabbika, bermanfaat untuk kemanusiaan.

Jika dikaitkan dengan turunnya Surah Al-‘Alaq, momen Ramadan juga menjadi penting untuk aktif meningkatkan kualitas diri dalam membaca secara saksama. Tentu bukan sebatas membaca buku, melainkan juga soal membaca diri, membaca alam, maupun situasi sosial yang ada di sekitar kita.

Namun, tulisan ini akan berfokus pada jihad literasi yang dilakukan komunitas pencinta buku yang belakangan masif dilakukan di tengah-tengah masyarakat. Di bulan Ramadan ini, komunitas baca yang aktif untuk menggerakkan literasi, misalnya, ‘berdakwah’ di media sosial dengan tagar #ngabuburead, pelesetan dari ngabuburit.

Aktivitas yang mengajak netizen yang budiman untuk mengisi bulan Ramadan yang mulia dengan membaca buku. Gerakan sosial yang dilakukan agar segenap anak bangsa berkesempatan untuk menikmati bacaan-bacaan berkualitas. Keteguhan ini berasal dari keyakinan bahwa membaca adalah hak setiap anak bangsa dan ketangguhan membaca buku sangat berkorelasi dengan kemajuan suatu bangsa.

Penghargaan terhadap buku sebagai sumber pengetahuan memang belum menjadi arus utama di negeri ini. Apalagi, sebelum anak-anak kukuh dengan kekuatan membacanya, derasnya arus informasi digital sudah kadung hadir. Media sosial dengan berbagai platformnya lebih menarik daripada buku-buku elektronik. Optimalisasi kehadiran internet untuk mendongkrak literasi publik perlu ditingkatkan.

Di sekolah, arus Gerakan Literasi Sekolah (GLS) sangat bergantung pada kekuatan aktor penggerak, yaitu pimpinan sekolah dan guru-guru. Tanpa ketangguhan mereka dalam memberi fundamen kebiasaan dalam ruang-ruang pembelajaran atau aktivitas sekolah, tak akan ada GLS di sekolah.

Melihat anak-anak memegang buku nonpelajaran di sekolah serta aktif mendiskusikannya masih menjadi kemewahan di sekolah-sekolah di Indonesia. Perpustakaan yang nyaman pun masih menjadi barang langka di sekolah-sekolah.

Ketika naik transportasi publik, meskipun sangat langka, beberapa kali saya melihat orang tertunduk khusyuk menatap bukunya. Ini tentu baik menjadi contoh, bahwa membaca bisa dilakukan di mana pun dan kapan pun. Komunitas literasi yang tergabung dalam Lokomotim, misalnya, menginisiasi gerakan Kereadta, yang mengajak para commuters (pengguna commuterline) untuk membaca di kereta (www.cnnindonesia.com, 6/4/2018).

Tidak ada buku
Soal tak ada buku yang dibaca menjadi hal utama yang menyebabkan kebiasaan membaca anak-anak rendah. Bagaimana bisa menjadi pembaca yang baik jika anak minim perjumpaan dengan beragam buku?

Suatu waktu saya terlibat salah satu riset di wilayah Banten. Ketika datang ke salah satu sekolah dasar, saya melihat antusiasme anak-anak dalam belajar juga dedikasi para guru-gurunya. Saya berkesempatan mewawancarai beberapa anak dan mengajukan beberapa pertanyaan termasuk soal membaca.

Saya memulainya dengan pertanyaan, “Apakah kalian senang membaca?” Jawaban mereka serempak, “Ya, kami senang membaca.” “Buku apa yang kalian baca?” sebut saya. Masing-masing menjawab, tetapi intinya sama, buku yang mereka baca hanya buku pelajaran yang diberikan di sekolah.

Saya mengejar pertanyaan lanjutan, “Apakah kalian pernah membaca dongeng, cerita anak, atau buku sastra lainnya?” “Pernah, dalam buku pelajaran bahasa Indonesia,” sebut mereka. “Lalu apakah pernah membaca buku atau majalah?” Tidak. Saya memungkasnya dengan pertanyaan, “Apakah kalian mau membaca banyak buku?” “Mau pak”, teriak mereka dengan lantang dan bersemangat.

Dari wawancara tersebut saya semakin yakin bahwa persoalan membaca sangat bergantung pada akses anak-anak terhadap buku-buku yang baik, bukan semata karena malasnya mereka membaca. Mereka tak membaca karena memang tak ada buku yang dapat dibaca. Mereka tak mendapatkan itu dari sekolah, keluarga, ataupun masyarakat di sekitarnya. Mereka tak melihat contoh orang-orang yang gigih membaca.

Pengetahuan yang mereka dapat hanya melalui buku paket yang diberikan pemerintah dan kesabaran guru-guru dalam mendidik di sekolah. Tidak ada alternatif wawasan yang didapat dari beragam buku sebagai sumber referensi. Kepala sekolah dan para guru berulang kali menyatakan keinginan mereka untuk memiliki perpustakaan dengan banyak buku yang dapat dibaca kapan pun oleh anak-anak sebab buku merupakan barang mewah untuk anak-anak di desa tersebut.

Hiburan mereka di waktu luang adalah menemani orangtua ke sawah ataupun mengaji di langgar. Anak-anak yang mayoritas memiliki orangtua yang berprofesi sebagai petani ini belum terpapar dengan daya destruksi dari gawai yang menjadi keluhan orangtua di wilayah perkotaan sehingga hadirnya buku-buku berkualitas tentu akan menjadi nilai tambah bagi anak-anak bangsa ini.

Yang menarik, relasi guru dengan anak-anak tidak hanya terjalin di sekolah, tetapi juga di rumah. Anak-anak ini sering mendatangi rumah guru-guru mereka di luar jam persekolahan hanya untuk belajar mengenai apa pun sehingga salah seorang guru yang juga tokoh adat bercerita keinginannya mewujudkan taman bacaan.

Buku-buku yang dibutuhkan tentu beragam, tetapi menurutnya yang paling baik adalah buku-buku yang terkait dengan persoalan pendidikan dan pertanian. Jenis buku tersebut tentu dapat dimanfaatkan bukan hanya oleh anak-anak, melainkan juga masyarakat yang membutuhkan buku-buku terkait pengetahuan praktikal yang dibutuhkan dalam menopang aktivitas pekerjaan mereka.

Kehadiran buku adalah sesuatu yang istimewa bagi mereka juga anak-anak bangsa lainnya. Sesuatu yang perlu diwujudkan oleh kita bersama. Buku-buku harus didatangkan ke rumah-rumah, sekolah-sekolah, ataupun rumah-rumah/komunitas-komunitas baca. Mustahil daya baca meningkat jika kita tidak mau berupaya keras menghadirkan buku-buku yang anak-anak yang berkualitas.

Di bulan suci ini, menguatkan semangat membaca juga menguatkan jaringan kerja sama agar semakin banyak buku yang bisa dinikmati oleh semua anak bangsa merupakan jihad literasi yang utama.

***

Halaman