Breaking News

Setelah Pesta Demokrasi Usai

Penulis: Seto Mulyadi Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Dosen Fakultas Psikologi Universitas GunadarmaPada: Selasa, 07 Mei 2019, 03:50 WIB


SEIRING dengan waktu yang masih menunggu real count dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), ditambah dengan berkembangnya prasangka negatif sementara pihak terhadap kinerja KPU, saya khawatir bahwa ketenangan batin pascapilres juga akan pulih dengan langkah yang gontai.

Antarkubu kontestan politik mungkin masih saling sulit menerima satu sama lain sambil menenteramkan batin masing-masing. Merapatkan mosaik-mosaik keindonesiaan akan menjadi persoalan yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Sesaat terbayang di pelupuk mata saya, tingkah pola kanak-kanak yang begitu uniknya. Disebut unik karena sesama mereka bisa bertengkar 'hebat' memperebutkan mainan. Namun, beberapa menit kemudian mereka sudah bisa bercengkerama kembali seolah tak terjadi persoalan apa pun sebelumnya. Sesaat mereka berperilaku bagai musuh bebuyutan, tapi sesaat kemudian kompak rukun tak terpisahkan. Apa penyebabnya?

Ajaran agar anak-anak mempunyai cita-cita sudah menjadi materi universal dalam program pengasuhan anak. Bicara tentang cita-cita berarti bicara tentang masa depan. Namun ironis, kita orang dewasa kadang sering arogan dengan berkata: "Tahu apa kau tentang masa depan, Nak? Ayah lebih tahu daripada engkau. Ayo, ikuti saja Ayah!"

Intinya, orang dewasa mengklaim bahwa keunggulannya dibandingkan anak-anak ialah terletak pada kemampuannya untuk berpikir visioner. Menetapkan sasaran jangka panjang, strategi jangka panjang, dan mengalkulasi risiko jangka panjang ialah program canggih yang hanya ter-install di kepala orang dewasa.

Anggaplah memang demikian. Namun, bila pemahaman akan hal tersebut semua dibalik, ternyata gambaran situasinya menjadi kurang menggembirakan. Karena daya fantasinya begitu jauh melambung ke masa depan, maka beragam emosi pun ikut mengendap dalam jangka panjang, termasuk perasaan-perasaan negatif.

Ibaratnya, serempetan mobilnya baru berlangsung 3 menit lalu, tapi kekesalannya dapat bertahan terus hingga bertahun-tahun kemudian. Jangankan mencoba melupakannya sebagaimana kesederhanaan pola pikir anak-anak, perasaan negatif itu terus dipupuk dengan berbagai cara. Misalnya dengan membentuk kelompok pembenci, yang aktivitasnya tak jauh-jauh dari mendiskreditkan si target.

Steven Stosny, seorang terapis yang mengamati kondisi masyarakat pasca-Pilpres Amerika Serikat 2016, memiliki penjelasan berbasis fa'ali. Menurutnya, pada masa di seputar pemilihan umum, 'otak anak-anak' membajak 'otak dewasa'.

Otak dewasa yang dimaksud Stosny terutama ialah otak depan (prefrontal cortex). Bagian otak tersebut berfungsi meredam impuls sekaligus menggerakkan kerja-kerja kognitif yang canggih. Pada saat 'otak dewasa' itu dibajak, orang dewasa akan cenderung bertingkah laku layaknya anak-anak usia prasekolah: "Pokoknya aku! Ini milikku! Harus sekarang!", dan seterusnya.

Media sosial dan aplikasi komunikasi berbasis ponsel menambah panjangnya pertikaian ini. Belum puas berkasak-kusuk di dunia nyata, mengomel dan bergosip ria berlanjut di media sosial ataupun aplikasi semacam Whatsapp dan sejenisnya. Bertemu muka bisa saling tersenyum manis, tapi di media sosial bisa saling menyeringai garang. Mohon maaf, pemandangan serupa inilah yang muncul di jagat perpolitikan nasional pada pekan-pekan belakangan ini.

Ketegangan Psikis

Bukti nyata ketegangan psikis pascapesta demokrasi dicatat oleh banyak ilmuwan. Di 'Negeri Paman Sam', sebagai ilustrasi, sekitar 40% orang dewasa di sana mengakui bahwa obrolan politik di media sosial membuat mereka stres. Jika dibandingkan dengan mereka yang tidak bermedia sosial, masyarakat pengguna media sosial pun menyetujui bahwa pemilu membuat mereka lebih tegang daripada biasanya.

Anak-anak pun tidak kebal dari kondisi psikis yang secara populer disebut sebagai post-election stress disorder (PESD) itu. PESD sebagai dampak langsung meruyak karena anak-anak tersebut menyimak berbagai informasi, baik dari media maupun dari berbagi aplikasi komunikasi berbasis ponsel. Sementara itu, PESD sebagai dampak tidak langsung, dialami anak-anak justru dari perlakuan negatif orangtua mereka yang terkena imbas pemberitaan media.

Sama halnya dengan yang terjadi di Inggris. Setelah referendum Brexit beberapa tahun lalu, terjadi kenaikan hingga 35% jumlah anak-anak yang memerlukan pertolongan profesional akibat tertekan oleh berbagai isu terkait dengan hal yang memantik perasaan serbatidak pasti akan masa depan mereka.

Dalam situasi semacam demikian itulah anak-anak akan belajar banyak tentang regulasi emosi. Tentu, kita sadar, dialektika yang berlangsung di masa seputar pilpres kali ini tidak bisa dan tidak sepatutnya dianggap remeh. Hasil pesta demokrasi akan menjadi awal dari runtuh atau tegaknya Indonesia ke depan. Jelas, rekomendasi agar masyarakat yang saat ini masih panas hati lalu bisa berubah seketika menjadi sejuk ialah tidak masuk akal. Jauh dari realistis.

Betapa pun risau akan mewabahnya PESD, ditambah lagi kekhawatiran akan dampak perpolitikan dalam negeri terhadap anak-anak, tidak perlu membuat kita semua sangsi akan keandalan demokrasi. Perhelatan lima tahunan ini tetap harus jalan terus.

Kita patut terus memompa optimisme bahwa episode roller coaster ini dibutuhkan dalam rangka meneguhkan jatidiri bangsa. Sekaligus untuk memperkuat kepedulian kolektif terhadap berbagai, katakanlah, ketidakwajaran dalam kehidupan bernegara dan berpolitik. Serta untuk meneguhkan sikap bersama bahwa yang benar akan kita dukung dan yang keliru tentu akan kita koreksi.

Yang patut kita ikhtiarkan ialah membangun dan mengarusutamakan narasi-narasi konstruktif tentang bagaimana menghentikan kegaduhan ini. Epilog seperti itulah yang patut disimak bersama oleh masyarakat pada umumnya dan anak-anak pada khususnya.

Mekanisme untuk mengatasi situasi yang rumit ini pada dasarnya sudah tersedia. Namun, sayang, ini bagaikan bab buku yang terlewati pada pesta demokrasi kali ini, dan anak-anak bisa dipastikan menjadi pihak yang paling terakhir menangkap narasi tentang jalan keluar itu.

Tahapan-tahapan pilpres dan pileg sudah hampir selesai. Sudah tiba saatnya mengatur napas dan menurunkan darah kembali. Kita semua--ayah bunda, guru, politisi, polisi, dan segenap orang dewasa--dituntut untuk konsekuen: saling berupaya guyub dalam suasana ceria kembali, bertukar cerita-cerita yang membangkitkan asa keindonesiaan, siapa pun yang menjadi pemimpinnya.

Bagi anak-anak, mereka menantikan bukti nyata bahwa kita para orang dewasa memang mampu menemukan jalan keluar yang konstruktif. Titik awalnya dengan menata suasana batiniah kita sealamiah mungkin.

Bila perlu, justru dengan rendah hati belajar kembali kepada anak-anak, yang tidak pernah dendam dan sangat mencintai persahabatan.

Semoga.

***

Halaman