Breaking News

Ya Allah Ya Rabi, Aku ingin Sembuh

Penulis: Jurnalis Media Indonesia dan Penyintas Kanker Siswantini SuryandariPada: Sabtu, 01 Jun 2019, 21:06 WIB 


MENDENGAR kabar ibu Ani SBY sedang drop dan masuk ICU National , saya mau share tentang pengalaman saat menjalani pengobatan berat kanker mammae.

Secara umum, orang yang divonis kanker akan mengalami tekanan psikologis yang hebat. Bahkan saat mengetahui kondisi penyakitnya sudah dalam tahapan stadium lanjut.

Seperti yang saya alami saat bertemu dokter dan tahu bagaimana status kanker yang saya idap, dengan harapan hidup 50%. Tapi berhubung pas bertemu dengan dokter, ada anak saya yang baru tujuh bulan, saya tidak boleh menunjukkan rasa putus asa atau cepat-cepat menyerah pada keadaan.

Pada saat itu (Agustus 2015), saya cuma punya dua doa: Ya Allah Ya Rabi, aku ingin sembuh dan jadikan aku sebagai makhluk ciptaan-Mu yang memiliki kesabaran tanpa batas.

Saya mendapatkan satu siklus kemoterapi yakni enam kali, 30 kali radioterapi, serta operasi pengangkatan mammae. Dalam perjalanan, saya mendapatkan bonus 2 kali kemo. Sehingga 8 kali kemo atau 1,5 kali siklus.

Waktu kemo pertama kali, sebelahku adalah Balqis kelas 1 SD pengidap kanker darah. Saat saya tanya Balqis berapa kali kemo? Dia menjawab 30. Masyaallah, satu kali kemo saja efeknya seperti itu, apalagi 30 kali.

Balqis bertubuh gempal. Saat kami makan bersama di tengah kemo, sama-sama lahap. "Tante, kalau aku sudah sembuh aku mau main sepakbola. Kata dokter aku enggak boleh banyak pikiran. Pelajaran sekolah jangan jadi beban. Enggak naik kelas engak apa-apa. Yang penting aku sehat dulu. Begitu kan."

Dari kalimat itu sudah mengisyaratkan bahwa pasien jangan terlalu banyak pikiran, jangan stres. Apapun yang terjadi serahkan pada Sang Pemilik Hidup.

Beban psikologis itu mengganggu pikiran dan membentuk sikap kita dalam keseharian. Saya menyelesaikan pengobatan berat (kemo, berbagai CT Scan, dan radioterapi) selama 1,5 tahun.

Doa saya pun masih sama. Dan saat jarum infus berisi obat kemo masuk, saya berzikir. Karena, setelah itu, sekitar 2 jam, saya seperti enggak sadarkan diri.

Selama pengobatan berat itu saya bertemu dengan banyak teman dan komunitas. Di situlah saya baru tahu masalah psikologis yang selama ini mengganggu pengobatan.

Umumnya pasien kanker cepat putus asa ketika menjalani pengobatan yang berat, melelahkan, dan jangka waktu lama. Putus asa ini berimbas menjadi depresi.

Tidak sedikit teman-teman saya yang kemudian harus mengakhiri pernikahan karena akumulasi persoalan2 yang dihadapi dengan pasangan ditambah kondisi pasien drop setelah mendengar gosip sana sini.

Belum lama ini, seorang artis divonis kanker dan dicerai suami dengan alasan suami enggak tega melihat kondisi istrinya. Berhubung dia seorang seleb, kasusnya mengemuka. Tapi di akar rumput, kasus seperti itu cukup banyak.

Maka, menjadi orang yang sabar tanpa batas ini menjadi modal utama. Dokter saya yang baik dan penyabar selalu bilang ke saya, ibu harus bahagia. Bentuk bahagia itu seperti apa, ibu yang tahu. Ibu ikhlaskan semuanya dan sabar. Saya berpikiran sama.

Saya suka berbagi pengalaman dengan teman-teman, bahwa apapun yang terjadi dalam hidup kita, kita harus niatkan semangat untuk sembuh dan bahagia.

Urusan hidup dan mati, Allah sudah menuliskan di buku takdir. Sebab bila sudah drop, pasien kanker biasanya tidak mau makan, hemoglobin turun sehingga harus diinfus. Kemo yang seharusnya one day care, akhirnya rawat inap. Padahal obat utama dari kanker agar kemo dan radioterapi bisa berfungsi baik hanya dengan makan. Makan pun enggak ada pantangan.

Dengan makan, tubuh memiliki tenaga, sebab terapinya berat. Kepala saja bisa botak. Apalagi setiap kemo butuh rata-rata 5 jam rata. Dan efeknya luar biasa keren seperti mual, muntah, rambut rontok, kulit gosong, kuku copot, dan mulut pahit.

Dokter baru memprogram makan setelah semua terapi berat selesai. Saya paham kenapa banyak teman yang drop. Apalagi mereka yang harus bercerai. Beban ganda bagi pasien. Cerai mati saja berat, apalagi cerai hidup. Tapi Allah SWT selalu memberikan cobaan yang tidak melebihi kemampuan umat-Nya.

Pada Januari 2017, saat dilaksanakan positron emission tomography (PET) scan dinyatakan bersih. Bahkan dari seluruh tubuh saya, tidak ada jejak kanker. Allahu akbar.

Dan Allah memberikan hadiah tidak pernah saya lupakan sepanjang hidup saya, saya lolos seleksi petugas haji. Saat berada di depan Kakbah untuk pertama kalinya, saya menangis tiada henti. Ya Allah Ya Rabi.. Saya susah menjelaskan perasaan saya waktu itu.

Dan pada pelaksanaan sai, di situlah saya baru bisa memaknai kesabaran tanpa batas yang telah dilakukan oleh Siti Hajar saat mencari air untuk putranya, Ismail.

Hingga sekarang saya rutin kontrol per bulan. Diprogram hingga 2021 untuk terapi pengendalian hormon estrogen. Tidak sedikit teman-teman saya yang sudah mendahului.

Setiap kali kontrol pasti bertemu dengan pasien baru, dan berbagi cerita positif. Agar mereka juga semangat dalam menjalani pengobatan.

Prinsip saya, kanker sudah ada di tubuh jadi kita harus obati. Perhatian pada keadaan diri sendiri dan carilah kebahagiaan apapun itu bentuknya. Kalau saya menyalurkan dengan menulis novel atau cerpen, nonton film, baca buku, bikin kue, dan bernyanyi di saat senggang. Juga olahraga jalan kaki (urusan dengan sang Khalik masuk ranah privat).

Saya tidak tertarik obrolan politik dan sebagainya. Teman-teman saya kalau di rumah sakit ada yang bikin rajutan, menggambar, baca buku, bahkan membagi kue buatan sendiri. Dan pasien kanker boleh berpuasa.

Bahkan dokter saya menyarankan puasa Senin-Kamis juga bagus (di luar ramadan) karena untuk detox. Itu dianjurkan bagi pasien yang sudah selesai terapi beratnya.

Saat ini ada jutaan pasien kanker yang sedang berjuang untuk sembuh. Ibu Ani dalam berjuang selalu dikelilingi keluarga yang masih utuh dan mencintai. Itu adalah suport bagus. Namun, semua harus kita serahkan kepada Allah SWT. Dia lah yang menuliskan seluruh skenario hidup kita. Semoga sakit ibu bisa menjadi penggugur dosa. Aamiin Ya Allah. (Jakarta, 31 Mei 2019)

***

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Halaman